Metro Bintan

Pengerjaan Jembatan Pengujan, Terkendala Besi SNI

Tampak Jembatan Pengujan di Desa Pengujan Kecamatan Teluk Sebong, Selasa (27/11). F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos

batampos.co.id – Pekerjaan tahap kedua jembatan Pengujan di Desa Pengujan Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan masih menunggu material besi standar bina marga atau Standar Nasional Indonesia (SNI) yang didatangkan dari Batam.

Kadis Pekerjaaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bintan, Juni Rianto menuturkan ada material besi yang standar bina marga tidak dijual di Tanjungpinang dan Bintan, melainkan besi SNI untuk rangka badan jembatan pada sisi tengah jembatan dengan panjang lebih kurang 70 meter hanya tersedia di Batam.

“Yang buat sedikit agak lama karena dokumen material besi mesti melewati FTZ karena dari Batam. Sudah dipesan ke Batam namun masih dalam pengurusan dokumen. Kalau datang besinya, waktu yang dibutuhkan seminggu untuk pekerjaannya,” jelas Juni Rianto.

Juni mengatakan, saat ini progres pekerjaan tahap kedua jembatan ini sudah mencapai 93 persen.

“Jembatan dari sisi Pulau Bintan ke Pulau Pengujan sudah dibangun. Demikian juga dari sisi Pengujan ke sini. Tinggal di sisi tengah jembatan,” kata dia.

Dia menargetkan pembangunan jembatan selesai akhir tahun 2018. Sehingga akhir tahun ini sudah bisa dilalui kendaraan dan masyarakat.

“Akhir tahun ditargetkan sudah bisa tersambung jadi masyarakat sudah bisa memanfaatkannya,” kata dia.

Kendati demikian, tahun 2019 nanti, Dinas PUPR Kabupaten Bintan akan kembali mengalokasikan anggaran sekitar Rp 3,5 miliar untuk pengaman tiang beton jembatan ini.

“Sudah dibahas dengan DPRD tinggal paripuran. Jadi fungsi pengaman ini jika ada kayu yang hanyutan atau pompong menghantam jembatan, yang dihantam pengaman dulu baru jembatan,” tutup dia.

Sementara Kepala Dinas (Kadis) Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Bintan, Roni Kartika yang dihubungi siang kemarin menuturkan, pihaknya masih mendiskusikan alternatif usaha pokcai ke depan setelah jembatan Pengujan selesai dibangun dan tersambung.

Terlebih salah satu usaha pokcai digerakkan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pengujan.

“Kita akan diskusikan alternatifnya. Jadi usaha pokcai bisa terus berjalan. Ada kemungkinan pokcai akan dimodifikasi menjadi usaha tour mangrove di sana,” tutup dia.(met)