Metro Bintan

Aksi Protes 512 Pengungsi ke Bhadra Hotel

Keluhkan Fasilitas Hotel dan Kesehatan

Pengungsi saat aksi protes di Bhadra Hotel, jalan Wisata Bahari km 23 Gunung Kijang, Kamis (29/11). F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos

 

batampos.co.id – Sebanyak 512 pencari suaka melakukan aksi di tempat mereka ditampung di Bhadra Resort di Jalan Raya Wisata Bahari Kilometer (km) 23 Kelurahan Toapaya Asri, Kecamatan Toapaya, Kamis (29/11) sekitar pukul 10.30 WIB.

Alzobier Ahmed pengungsi menuturkan banyak masalah yang dikeluhkan pengungsi terhadap perlakuan International Organization for Migrasi (IOM) dan pihak Bhadra Resorts.

Dia menuturkan, seperti persoalan ambulan. Jika ada pengungsi yang sakit dan seharusnya dirujuk ke rumah sakit, namun tidak ada kendaraan ambulan.

Kemudian masalah kebebasan pengungsi. Ia menyebut, pengungsi yang tinggal di sini dibatasi jam keluar mulai dari sekitar pukul 06.00 WIB sampai dengan sekitar pukul 18.00 WIB.

“Tidak boleh telat. Kalau telat sedikit saja, kami dihukum dikirim ke sel, dipenjara,” kata dia.

Selain itu, dia juga mengeluhkan sistem sidik jari. Setiap pengungsi yang mau keluar atau masuk ke hotel harus melakukan sidik jari.

“Sehari bisa 5 kali sidik jari, contohnya kami mau menyeberang membeli sayur, kami harus sidik jari,” kata dia.

Tak hanya itu, dia juga mengeluhkan fasilitas air dan listrik yang ada di hotel. Fasilitas listrik di kamar yang ditempati 4 orang pengungsi hanya ada dua lampu. Sementara fasilitas listrik lainnya tidak bisa digunakan karena rusak.

“Kualitasnya jelek tidak bisa dipakai. Cuma bisa nyala 2 lampu saja tidak bisa pakai kipas,” kata dia.

Kemudian fasilitas air yang disediakan di hotel juga kualitasnya jelek.

“Air di sini kotor sekali di sini warnanya kuning. Kalau sehabis mandi semua tubuh kita alergi karena airnya kotor. Ada filter tapi tidak berfungsi,” kata lelaki asal Sudan.

Senada disampaikan oleh Yahya Jamili, pengungsi Afganistan mengatakan, jika sakit mereka hanya diberikan obat penghilang nyeri.

“Kualitas medisnya jelek sekali. Kalau berobat, cuma dikasih obat penghilang rasa sakit. Bukan obat yang sebenarnya,” kata dia menambahkan perlakuan pihak hotel juga buruk.

Kapolsek Gunung Kijang, AKP Dunot P Gurning di lokasi aksi menyampaikan, pihaknya siap memfasilitasi keluhan pengungsi dan pihak IOM dan Rudenim.

“Tolong sampaikan ke kawan-kawan supaya tidak seperti ini (demo). Kalau ada yang mau disampaikan nanti difasilitasi, kita sudah hubungi IOM dan Rudenim untuk kalian berunding,” singkatnya.

Hingga berita ini ditulis, Kasat Intelkam Polres Bintan, AKP Yudiarta dan Rudenim masih melakukan perundingan dengan para pengungsi. Belum terlihat pihak IOM.(met)