Metro Bintan

Investasi Rp 75 Triliun, Serap 40 Ribu Tenaga Kerja

KEK Galang Batang Dibangun 3 Tahap

Wilayah KEK Galang Batang di Desa Galang Batang, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan tampak dari atas. Investasi sebesar Rp 75 triliun ini akan diresmikan Menko Perekonomian, Darmin Nasution, Sabtu (8/12) mendatang. F.Repro/PT BAI untuk Batam Pos

 

batampos.co.id – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang yang berada di Desa Galang Batang, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan akan diresmikan Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Darmin Nasution, Sabtu (8/12) mendatang.

Direktur PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) selaku pengelola KEK Galang Batang, Santoni menyampaikan KEK Galang Batang dibangun secara bertahap. Rencananya pembangunan KEK Galang Batang rampung dalam kurun waktu 10 tahun.

“Ada tiga tahap. Targetnya 10 tahun (pembangunan),” kata dia. Lebih jauh dia menjelaskan, tahap pertama dengan nilai investasi sebesar Rp 15 triliun akan tersedia Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berdaya 25 x 6 MegaWatt (MW).

“PLTU pertama kali dibangun dengan daya 150 MegaWatt. Targetnya sampai 2.860 MW. Lebih besar (dayanya, red) 3 kali dari Batam,” ujarnya.

Santoni juga menyebut, bila pembangunan KEK Galang Batang selesai, total nilai investasi bisa mencapai Rp 75 triliun dengan menyerap sekitar 40 ribu tenaga kerja. Namun demikian pada tahap awal diperkirakan menyerap tenaga kerja sekitar 5 hingga 6 ribu tenaga kerja. Tenaga kerja yang akan dipekerjakan tentunya tenaga kerja yang memiliki kemampuan sesuai dengan bidangnya.

“Kita mesti didik tenaga-tenaga kita,” kata dia.

Disinggung mengenai pembangunan Smelter? Sejak dilakukan peletakkan batu pertama, Santoni memprediksi, pembangunan smelter selesai dalam waktu 2 tahun atau diperkirakan mulai beroperasi akhir tahun 2020 mendatang.

“Kalau biasa di Cina (Tiongkok) sekitar 12 hingga 13 bulan selesai,” kata dia.

Dia juga menjelaskan, sebetulnya pabrik alumina ini merupakan induk dari industri. Kenapa induk industri? Karena banyak fasilitas yang seharusnya disediakan untuk menunjang industri lainnya, salah satunya listrik supaya ongkos industri lebih murah.

Lalu bagaimana dengan peran pemerintah? Santoni menjelaskan, pemerintah sangat mendukung keberadaan KEK Galang Batang. Terlebih Pemkab Bintan dan Pemprov Kepri, dukungannya luar biasa. Hanya dia mengeluhkan soal birokrasi. Dicontohkannya, salah satu izin baru selesai selama 5 tahun.

“Dulu saya menghadiri rapat bersama Pak Jokowi (Presiden) di Beijing. Beliau mau pangkas birokrasi, tapi saya urus izin PLTU saja 5 tahun, reklamasi 1,5 tahun baru selesai. Saya sudah lapor ke pak menteri, tapi pak menteri kan sibuk juga. Di bawah banyak aturan dan tak bisa dilanggar,” ungkapnya.

Baru-baru ini, Santoni juga menceritakan dipanggil rapat di Komisi 7 DPR RI terkait masalah lingkungan. Ada LSM yang melaporkan masalah lingkungan di PT BAI.

“Saya bilang sama LSM itu sebetulnya bukan kita yang diserang, mestinya mereka menanyakan ke pemerintah, kenapa perusahaan ini tidak jadi-jadi apa masalahnya?,” kata dia menambahkan susahnya mendatangkan pengusaha.(met)