Metro Bintan

PT ESCO Bintan dan FIKP UMRAH Fokus Budidaya Gong-Gong

Chairman PT ESCO Group Companies, Lim Lay Yew dan Dekan FIKP UMRAH, Dr Agung Dharma Syakti menunjukkan dokumen nota kesepahaman yang ditandatangani bersama di Kampus UMRAH, Senggarang, Tanjungpinang, Rabu (5/12) sekitar pukul 10.00 WIB. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos

 

batampos.co.id – PT ESCO Bintan dan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menjalin kerjasama di bidang perikanan.

Kerjasama ini dituangkan dalam memorandum of understanding (MoU) yang ditandatangani oleh Chairman PT ESCO Group Companies, Lim Lay Yew dan Dekan FIKP UMRAH, Dr Agung Dharma Syakti di Kampus UMRAH, Senggarang, Tanjungpinang, Rabu (5/12) sekitar pukul 10.30 WIB.

Agung Dhamar Syakti menuturkan, kerjasama FIKP UMRAH dan PT ESCO Bintan fokus ke bidang perikanan. Spesifiknya kerja sama untuk melakukan penelitian bersama sekaligus  budidaya Gong Gong, Tripang dan Kuda Laut di Kampung Bugis Kelurahan Tanjunguban Utara Kecamatan Bintan Utara.

“Kami melihat spesies seperti Gong Gong sudah over eksploitasi sehingga sumber daya hayati yang satu ini mulai berkurang. Untuk itu, kami merasa perlu melakukan budidaya Gong Gong,” kata dia menambahkan ke depan juga akan dilakukan budidaya Tripang dan Kuda Laut.

Dia menilai Gong Gong ialah sumber daya hayati yang bernilai ekonomis tinggi, namun ketersediaan di alam sangat terbatas. Tidak dibantahkan bila terus menerus dieksploitasi, Gong-gong yang menjadi kuliner khas Pulau Bintan, dan Provinsi Kepri umumnya ini akan menjadi sumber daya hayati yang langka di kemudian hari.

Sementara itu, Agnes yang mewakili Lim Lay Yew menuturkan, kerjasama ini sebuah kolaborasi yang baik antara industri dan akademisi. FIKP UMRAH menyediakan peneliti atau tenaga ahli sedangkan PT ESCO support terhadap tempat penelitian yang berada di Kampung Bugis, Tanjunguban.

Diharapkan, kerjasama ini memberikan edukasi ke masyarakat tentang budidaya Gong Gong yang benar sehingga sumber daya hayati ini bisa terus berkelanjutan.

“Sehingga masyarakat tidak sekedar mengeksploitasi Gong Gong, namun juga bisa buat konservasi Gong-gong,” tutup dia.(met)