Metro Bintan

Dua Calon Relawan Terdaftar di Partai Politik

Dua Komisioner KPU Bintan Rusdel (kanan) dan Syamsul melakukan tes wawancara terhadap calon relawan demokrasi di Kantor KPU Bintan, Jumat (25/1). F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos

batampos.co.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bintan menemukan dua calon relawan demokrasi terdaftar sebagai anggota partai politik (Parpol) dalam Sistem Informasi Partai Politik (Sipol).

Hal ini diketahui saat KPU Bintan melakukan tes wawancara terhadap 71 calon relawan demokrasi di Kantor KPU Bintan Jalan Tata Bumi Ceruk Ijuk Kecamatan Toapaya, Jumat (25/1).

“Benar ditemukan dua orang calon terdaftar sebagai anggota partai dalam Sipol,” ungkap Komisioner KPU Bintan, Rusdel.

Namun, KPU Bintan sudah mengklarifikasi ke kedua calon. Ternyata mereka tidak mengetahui kalau nama mereka terdaftar sebagai anggota partai politik. Keduanya juga tidak memiliki kartu anggota partai politik.

“Kita menduga saat pendaftaran anggota partai politik, nama mereka dicomot,” menurutnya.

Untuk antisipasi bila nama keduanya lulus dalam relawan demokrasi, ia mengatakan, pihaknya akan meminta ke partai politik untuk mengeluarkan surat pernyataan bahwa keduanya bukan anggota partai politik.

“Kami akan minta surat ke partai politik yang menegaskan bahwa mereka sama sekali bukan dan tidak pernah menjadi anggota partai politik,” tegasnya.

Sementara Komisioner KPU Bintan lainnya, Syamsul mengatakan, sejauh ini ada 71 calon relawan demokrasi yang mendaftar.

KPU Bintan akan merekrut 55 relawan demokrasi untuk 11 basis pemilih. Dimana, 1 basis pemilih akan ditugaskan 5 relawan.

11 basis pemilih tersebut diantaranya basis pemilih keluarga, perempuan, disabilitas, keagamaan, warga net atau netizen dan basis komunitas marginal.

“Saat ini tes wawancara. Harapannya Senin sudah diumumkan sehingga Selasa bisa bimtek,” katanya.

Upah seorang relawan, katanya berkisar Rp 750 per bulan. Bila dijumlahkan sebanyak 55 relawan, anggaran yang dialokasikan untuk relawan sekitar Rp 123.750.000. Para relawan ini akan bekerja selama tiga bulan mulai Februari hingga April 2019.

“Tugas mereka sosialisasi misalkan mengingatkan basis pemilihnya. Kalau keluarga misalkan mengingatkan tanggal berapa pemilihan, jam berapa dan e KTP nya. Kalau basis warga net  ya netizen mainnya di internet medsos,” jelas dia.

“Kalau marginal, ini misalkan komunitas-komunitas LGBT. Kendati tak diakui, namun keberadaanya ada. Jadi direkrutlah relawan dari basis ini sehingga mereka bisa masuk ke komunitas ini,” tutup dia menambahkan. (met)