Pariwisata

Dulu Ramai dan Serbaada, Kini Menyisakan Bangunan Lapuk dan Mencekam

Melihat kampung prambanan yang ditinggal penduduknya

Suasana Kampung Prambanan yang sempat ramai karena adanya industri di Lobam, saat ini mencekam setelah lama ditinggalkan penduduknya, Rabu (30/1) pagi. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos

Sekitar lima tahun silam, Kampung Prambanan diibaratkan toko serbaada. Dagangan komplet, pengunjungnya pun berjubel. Hampir segala hal bisa dijumpai di kampung tersebut. Namun saat ini, Prambanan tak ubahnya kampung mati.

Slamet Nofasusanto

Rabu pagi (30/1), langit cukup cerah. Meski matahari bersinar, namun udara tidak terlampau panas. Itu karena angin juga bertiup kencang. Bertepatan dengan itu, beberapa kendaraan pekerja tampak keluar dan masuk ke Kawasan Industri Lobam, Bintan.

Tak jauh dari sana, ada deretan bangunan yang nampak seperti kawasan untuk tempat tinggal bila dilihat dari kejauhan. Batam Pos sengaja menyusuri jalan setapak menuju kawasan itu. Mengendarai sepeda motor, akses jalan menuju ke kawasan itu berpasir dan tak begitu lebar, hanya cukup untuk melintas sepeda motor. Di kanan dan kiri jalan, banyak tanaman alang-alang yang tumbuh subur.

Setelah menyusuri jalanan tersebut, sampailah di suatu kawasan yang menyerupai perkampungan. Itu adalah Kampung Prambanan. Di salah satu lorong kampung ini, meski banyak bangunan berdiri, namun suasana di sana sangat mencekam. Tak terlihat derap kehidupan. Padahal, ada beberapa rumah dan bekas toko yang masih berdiri menjulang. Hanya saja, beberapa bangunan itu tampak lapuk, sebagian yang terbuat dari besi terlihat berkarat.

Seorang perempuan dengan pakaian sedikit lusuh datang dari arah lainnya. Dia berhenti di depan sebuah toko. Namanya Darmi. Setelah menurunkan standar sepeda motornya, Darmi membuka kunci sebuah pintu besi.

“Saya tidak tinggal di sini lagi, cuma anjing yang di sini,” jawab wanita berambut pirang kehitaman itu.

Darmi bertutur, Kampung Prambanan kini memang sepi. Kondisi itu jauh berbeda dibanding situasi sekitar lima tahun silam. Dia mengenang masa-masa ketika gempita di kampung itu hidup.

“Di sini dulu serbaada. Ada warung makanan, toko pakaian, wartel (warung telepon) dan lain-lain,” katanya.

Darmi mengatakan, dulu jalanan di kampung itu sangat sesak. Apalagi, jika malam Minggu. Bukan semata pekerja di sekitar kawasan industri Lobam, namun masyarakat dari Lagoi dan Tanjunguban juga datang ke Kampung Prambanan. Karena, derap perniagaan dan pasar yang berada di Kampung Prambanan begitu hidup.

“Kalau yang jualan baju sampai jam 11 malam, kalau yang jualan makanan bisa sampai pagi, jam 01.00 WIB lah,” kenang Darmi.

Ramainya Kampung Prambanan tak lepas dari hidupnya perekonomian di kawasan itu. Terlebih, saat Kawasan Industri Lobam tengah maju dan banyak investasi di dalamnya. Kala itu, ada banyak pabrik yang beroperasi di dalam kawasan. Bahkan, juga ada dormitorinya. Pekerjanya, diperkirakan mencapai 15 ribu lebih. Imbasnya, Kampung Prambanan yang sangat dekat dengan kawasan industri Lobam juga ketiban berkah. Banyak rumah yang berdiri, dan sebagian disewakan untuk pekerja. Mengiringi ramainya kampung itu, perputaran ekonomi juga kian kencang.

“Siang dan malam sama saja. Prambanan tidak ada matinya,” sahut pekerja di kawasan industri Lobam, Murtiyani, yang kebetulan melintas di Kampung Prambanan.

Namun kini, setelah investasi di Kawasan Industri Lobam mulai lesu, derap kehidupan di Kampung Prambanan juga ikut redup. Ketika banyak investor hengkang dari Lobam, terjadi pengurangan tenaga kerja. Dari sekitar 15 ribu tenaga kerja, kini jumlahnya menyusut jadi sekitar 4 ribuan saja.

Banyaknya orang yang tak lagi bekerja di Lobam, nyatanya sangat berpengaruh terhadap Kampung Prambanan. Satu per satu, pekerja yang dulu menghuni kawasan itu juga mulai pergi. Tak hanya itu, beberapa pemilik rumah, toko dan lahan, banyak yang ikut pergi lantaran mau menerima ganti rugi dari perusahaan, yang berencana membangun perusahaan di wilayah itu. Alhasil, Kampung Prambanan makin sepi dari waktu ke waktu.

Darmi mengatakan, sekarang banyak warga Prambanan yang sudah meninggalkan kampung ini dan berpindah ke luar daerah. Banyak di antaranya yang pindah ke Tanjunguban. “Pak RT di sini juga sudah tinggal di luar daerah,” katanya.

Kini, Kampung Prambanan hanya dihuni beberapa puluh orang saja. Tinggal satu RT aktif yang bertahan di Prambanan, yakni RT 01 RW 111. Ketua RT-nya bernama Namin. Sayang, Namin tidak berada di rumah saat Batam Pos bertandang ke rumahnya. Yang ditemui saat itu istrinya, Nur, 38. Saat itu, Nur sedang bercengkerama dengan anak-anaknya di teras rumahnya.

Nur mengatakan, warga yang tinggal di Prambanan tinggal 10 Kepala Keluarga (KK). “Sebenarnya masih dua RT. Cuma satu RT, yaitu Pak Ali sudah tinggal di luar,” kata wanita tersebut.

Nur mengaku sebagai anak tuan tanah di sana. Ayahnya, almarhum Odang, termasuk orang awal yang tinggal di wilayah itu. Dia merupakan generasi kedua di kampung tersebut. “Bapak asli orang sini,” katanya.

Nur bertutur, dulu ada lebih dari 100 KK yang tinggal di Prambanan. Selain itu, banyak juga pekerja yang menyewa rumah atau indekos di kampung tersebut. Kala itu,memang banyak kos-kosan di Kampung Prambanan, selain keberadaan toko pakaian, warung makan dan lainnya.

Awalnya, Nur bercerita, kawasan itu bukan bernama Kampung Prambanan, namun Kampung Sukadamai.Sebelum adanya kawasan Industri Lobam, di sini merupakan permukiman penduduk. Selain Kampung Sukadamai, ada Kampung Tengah, Kampung Belakang Masjid, dan pantai.

“Karena digusur, dapat ganti rugi banyak yang pindah ke Teluk Sasah. Cuma yang mempertahankan lahan saja yang tinggal, macam kami ini,” kata dia.

Nama Prambanan, menurutnya bermula dari adanya perusahaan bernama Prambanan di sekitar wilayah itu. “Jadi namanya terikut sampai sekarang,” kata ibu dua anak ini.

Meski kawasan itu kini sepi dan mencekam, namun dia mengatakan tak berniat pindah dari Kampung Prambanan. “Tanah ini milik bapak, belum ada ganti. Kita tidak pindah, ikut amanah orangtua. Amanah bapak dijaga tanah ini,” tuturnya.(*)