Metro Bintan

Lahan Makam Panglima 9 akan Dibatumiring

Isnen, warga Kampung Tanah Merah Desa Penaga menunjukkan salah satu makam yang bersempadan dengan lokasi tambang bauksit. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos

batampos.co.id – Dua kampung yang disebut terdapat makam raja dan panglima yakni di  Kampung Tanah Merah Desa Penaga dan Kampung Gizi Desa Tembeling Kecamatan Teluk Bintan menjadi perhatian.

Disebutkan makam di kampung tersebut dirusak perusahaan yang melakukan pertambangan bauskit di dua kampung tersebut.

Kepala Desa Penaga, Hamrudin mengatakan, informasi awalnya memang ada persoalan pembongkaran lahan kuburan dekat lokasi penambangan bauksit di Kampung Tanah Merah.

“Informasi dari Sekcam Siti Aminah. Lalu kami turun bersama instansi lainnya, sekitar 10 hari yang lalu,” kata lelaki yang ditemui di Kantor Desa Penaga yang berlokasi di Kampung Tanjungpisau, Kamis (14/2) pagi.

Saat itu, dia turun ke lokasi menemui Ketua RT setempat. Namun menurut ketua RT tak ada masalah.

Dikatakannya, memang lahan tempat pemakaman umum (TPU) bersempadan dengan lahan pertambangan bauksit. Namun tidak ada lahan pemakaman yang dirusak.

“Tidak ada pengrusakan, emang lahannya di samping kuburan. Di situ diawsi sama masyarakat. Lahan nenek saya juga di situ,” kata dia.

Dikatakannya, tanah tersebut awalnya milik warga bernama Dormat kemudian dijual ke perusahaan bauskit.

“Saya tidak tahu PT apa namanya,” katanya.

Kemudian perusahaan bauksit menambang di sana hingga terjadilah kubangan.

Kubangan itu awalnya apakah nantinya mau ditimbun atau tidak, katanya saat itu tidak ada kesepakatan warga dengan perusahaan bauksit.

Namun, perusahaan sudah berjanji akan menimbunnya.

“Sekarang sudah ditimbun kembali, lahan samping dekat kuburan” ungkapnya.

Apakah lahan tersebut lahan makam raja atau panglima Bintan? Ia menjawab tidak ada makam raja atau panglima di sana. Hanya ada dua makam yang dianggap keramat.

“Di situ pemakaman umum. Tidak ada makam raja atau panglima di sini. Kalau ada di Rekoh, sama Bukit Batu. Kalau di sini tidak ada. Kalau pemakaman panglima mungkin di Kampung Gizi,” kata dia.

Warga Kampung Tanah Merah, Isnen, 50an, mengatakan, di sini ada dua makam keramat namun bukan makan raja atau panglima Bintan.

“Ada dua makan, 1 di sini makam Tok Sompek dan di atas makam Tok Bujang. Yang tahu ceritanya bapak saya,” kata lelaki yang mengaku keturunan salah satu makam keramat itu.

Dia juga mengatakan bukan makam raja atau panglima, namun makam tua.

Dia juga mengatakan, tidak ada yang rusak.

Basuki, salah seorang pekerja mengatakan, pihaknya berjanji akan menimbun lahan yang sudah diambil bauskitnya.

“Sudah tidak ada lagi bauskitnya. Sekarang menimbun, pokoknya  rapi kembali. Kadang anak-anak main di sini, takutnya kecebur   ke laut.

Kalau orang tua tidak tahu jadi bahaya,” kata dia.

Sementara itu, Ketua RT 02 RW 03 Rifin, yang merupakan warga Kampung Gizi Desa Tembeling mengatakan, tidak ada makam yang dirusak.

“Siapa yang berani merusak makam,” kata dia.

Dikatakannya, sebelum pekerjaan pertambangan dimulai, sudah ada pertemuan antara perusahaan pertambangan dengan ahli waris dari si pemilik lahan, almarhum Alfian.

“Saat itu boleh ditambang, tapi kasih jarak dengan makam. Dan minta makamnya dipercantik dengan diberikan batu miring,” kata dia.

Dikatakannya, makam itu memang sudah lama dan diklaim oleh sebagian orang sebagai makam panglima 9. “Kita tak tahu juga, orang orang tua yang tahu. Orang lain mengklaimnya makam panglima 9,” kata dia.

Saat ini katanya sudah tidak ada aktivitas pertambangan lagi di dekat lokasi lahan makam tersebut.

Kades Tembeling, Samsul Bahri belum berhasil dihubungi. Pantauan di lokasi, lahan makam yang diklaim sebagai lahan makam Panglima 9 itu berada di lokasi pertambangan bauksit. Letaknya di atas bukit. Terlihat sore itu, tidak ada lagi pekerjaan di lokasi.

Hanya terlihat garis PPNS LHK mengelilingi lokasi tambang bauskit tersebut.

Sementara Kepala KPHP Bintan, M Ruah Maha membenarkan, ada pihak Kemeterian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI turun ke Bintan.

“Disegel yang kerja di kawasan hutan produksi, bukan hutan lindung,” katanya.

Lokasi tambang yang disegel dengan dipolice line yang masuk kawasan hutan produksi di tiga titik yakni Pulau Koyang, Buton dan Tanjung Elong.

“Kalau tentang proses penyidikan yang dapat menjelaskan teman-teman penyidik KLHK,” tutup dia. (met)