Pariwisata

Angkat Pariwisata Sejarah Bintan ke Mancanegara

LAM Bintan & Tim Peduli Hang Tuah Menapak Jejak Datuk Laksamana di Melaka

Setia Usaha LAM Bintan Musaffa Abbas menuangkan air wudhu yang ditimba dari Perigi Hang Tuah, di Kampung Duyong, Melaka, Minggu (3/3) pagi. F.LAM Bintan untuk Batam Pos

batampos.co.id – Untuk mengangkat pariwisata serajah Bintan ke mancanegara, Lembaga Adat Melayu (LAM) Bintan dengan Tim Peduli Hang Tuah menapak jejak sejarah Datuk Laksmana Hang Tuah di Kampung Duyong, Melaka, Malaysia pada 2 hingga 3 Maret 2019.

Setia Usaha LAM Bintan, Datuk Musaffa Abbas menjelaskan, kegiatan ini untuk mengangkat pariwisata sejarah dan budaya
Kabupaten Bintan ke mancanegara.

Terlebih Hang Tuah lahir, dibesarkan, menuntut ilmu di Bintan. Namun berkhidmat di Kesultanan Melaka, dan meninggal di Bintan.

“Supaya Kampung Duyung yang terletak di Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan menjadi obyek pariwisata sejarah yang masyhur ke dunia internasional,” kata Musaffa Abbas, di
Perigi Hang Tuah, Kampung Duyong, Melaka, Malaysia, Minggu (3/3).

Perigi Hang Tuah yang terletak di Kampung Duyong, Melaka, kata Musaffa, merupakan jejakan kaki Hang Tuah yang mengeluarkan air dan menjadi perigi/sumur tempat warga menimba air.

“Waktu itu musim kemarau panjang, masyarakat kesulitan air, Hang Tuah berupaya membantu dengan menjejakkan kaki ke tanah, yang akhirnya mengeluarkan air dan
menjadi perigi untuk kebutuhan masyarakat memenuhi air minum,” ujar Musaffa.

Perigi yang awalnya hanya seluas jejak tapak kaki Hang Tuah, karena sering dipergunakan masyarakat menimba air, menjadi lebih luas hingga diameternya saat ini mencapai 2 meter.

Sementara itu, Ketua Tim Peduli Hang Tuah, Datuk M Amin mengatakan, ini merupakan langkah awal mengangkat kejayaan Hang Tuah yang akan diikuti dengan upaya pelestarian obyek-obyek situsnya di Bintan.

“Hang Tuah lahir di Kampung Duyung atau disebut juga Kampung Nuyung, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan pada Tahun 1431 M,” kata M Amin.

Hang Tuah, jelas M Amin, lahir, besar, menuntut ilmu di Kampung Duyung, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan. Namun berkhidmat di Melaka pada masa Sultan Mansyur Syah sampai Sultan Mahmud Syah 1.

“Penyebutan Laksamana untuk jabatan panglima perang pada masa Hang Tuah, tidak ada sebutan Laksamana sebelum panglima perang dijabat oleh Hang Tuah,” tambah M Amin.

Kampung Duyung yang di Melaka, kata M Amin, merupakan pemberian nama oleh Hang Tuah untuk mengingat kampung halamannya di Bintan.

“Jadi Hang Tuah atau yang pada masa itu dipanggil Datuk Laksamana lahir di Kampung Duyung, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, bukan di Kampung
Duyung, Melaka, Malaysia,” jelasnya.

Hang Tuah meninggal, lanjutnya, pada usia 80 tahun, meninggalkan dua istri salah satunya bernama Tun Sendari, enam anak, dua laki-laki bernama Tun Biyazid dan Tun Guna, empat perempuan diantaranya bernama Tun Sirah dan Sri Dewi Cindra Dewi. Tun Sirah pada masa dewasa menjadi istri Laksamana Koja Hasan, yang merupakan Panglima Perang Kerajaan Melaka masa Sultan Mahmud Syah 1.

Sri Dewi Cindra Dewi menjadi istri Sultan Mahmud Syah 1. Salah satu anak Hang Tuah juga menjadi istri Hang Nadim.

Sementara tokoh masyarakat Melaka, Abdul Gani mengatakan, penelusuran jejak Hang Tuah hendaklah menggandeng perguruan tinggi, serta pengumpulan dokumen dan bukti-bukti sejarah tertulis.

“Juga melibatkan keturunan raja-raja Melayu di Bintan yang masih hidup saat ini. Tentunya melibatkan juga keturunan Hang Tuah yang ada di Bintan,” kata Abdul Gani. (met)