Peristiwa

Istri La Mane Minta Keadilan

Kenapa Cuma Suaminya yang Ditahan

Supiani, istri dari La Mane, tersangka yang menghilang plat baja sisa pembangunan Jembatan I Dompak menunjukkan surat pernyataan dan kwitansi pembayaran tanda jadi pembersihan lokasi yang dipenuhi material potongan besi dan baja, saat ditemui di Desa Toapaya Selatan, Rabu (6/3). F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos

batampos.co.id – Supiani, wanita berusia 36, warga Tekojo Kelurahan Kijang Kota, Kecamatan Bintan Timur meminta keadilan atas kasus pencurian pelat baja Jembatan Dompak, Tanjungpinang yang menjerat suaminya, La Mane.

“Kenapa cuma suami saya saja yang ditahan. Apakah karena kami orang kecil lalu hukum tajam ke bawah tumpul ke atas,” kata ibu dua anak saat ditemui di salah satu kedai kopi kilometer 16 Desa Toapaya Selatan Kecamatan Toapaya, Rabu (6/3).

Wanita Sulawesi ini menceritakan, awalnya Sarbudin menawarkan pelat besi dan baja yang diletakkan di lokasi dekat Jembatan Dompak, Tanjung Duku kepada suaminya.

Suaminya, katanya sudah menolak tawaran itu. Selang beberapa hari kemudian, Sarbudin kembali menghubungi  suaminya.

“Padahal teman-temannya sudah melarang dia mengambil pelat besi dan baja karena milik pemerintah. Tapi akhirnya dia terima tawaran Sarbudin setelah dibuat surat pernyataan,” kata dia.

Dalam surat pernyataan yang dikeluarkan di Tanjungpinang pada 28 Mei 2018, tertera pihak pertama Andi Cori Patahuddin, Saiful, Julyanta Mitra dan Sarbudin. Sedangkan pihak kedua La Mane.

Surat pernyataan itu menyatakan bahwa pihak pertama membuat kesepakatan untuk membersihkan kegiatan di lokasi domitori di lokasi Dompak Tanjung Duku untuk objek wisata kuliner.

Dalam hal ini menyangkut material besi dan baja di lokasi tersebut.

Apabila dikemudian hari ada permasalahan pihak pertama akan bertanggungjawab penuh kepada pihak kedua. Dan pihak kedua tidak dikenakan dalam permasalahan hukum yang berlaku.

Dalam surat pernyataan itu juga dibubuhi tanda tangan kedua pihak dengan dilengkapi materai Rp 6.000 dalam keadaan sehat dan tidak ada paksaan.

“Saya malah sempat bertanya ke jaksa, masak surat pernyataan dengan materai 6 ribu tidak ada harganya. Kalau begitu kenapa negara membuat materai 6 ribu, suami saya juga masuk (penjara),” kata dia.

Yang membuatnya tambah kecewa karena yang lainnya tidak ditahan.

“Suami saya sudah dua bulan di dalam sel, kemarin tanggal 5 Maret dia dipindahkan dari Rutan di Batam ke Rutan Kampung Jawa,” kata dia.

Dia juga mengatakan, setelah kasus ini merebak. Sarbudin, katanya sempat meminta kepada suaminya untuk melenyapkan surat pernyataan yang telah mereka buat dan tandatangani bersama.

“Saya ada di situ saat Sarbudin ngomong. Dia minta ke suami saya supaya surat pernyataan yang mereka buat dan tandatangani bersama dibakar atau dibuang saja, tapi saya bilang ke suami saya kalau itu sampai dilenyapkan bisa mati konyol kamu (suaminya),” kata dia.

Selain itu, dia mengatakan, pelat besi yang diambil suaminya sebanyak 12 saja. Tidak lebih. Pelat itu setelah diambil kemudian diletakkan di Kilometer 18 Kijang. Dia juga mengatakan, sudah mengeluarkan uang sekitar Rp 140 juta.

“Rp 100 juta sudah diserahkan ke Andi Cori, sayangnya di kwitansinya tidak ada tanggalnya. Selebihnya untuk sewa crane dan bayar operator,” kata dia.

Dia berharap, atas kasus yang menimpa suaminya ada keadilan. Apalagi sejak suaminya ditahan, dia menjadi tulang punggung keluarga.

Sebelumnya, kasus ini mencuat setelah pelat baja sisa proyek pembangunan Jembatan I Dompak senilai Rp 4,4 miliar yang merupakan aset Pemprov Kepulauan Riau hilang karena dicuri.(met)