Metro Bintan

Debit Air Waduk Sei Jago Menyusut

Warga Berburu Air di Sumur Umum

Warga Perumahan Lobam Mas Asri, Kelurahan Tanjung Permai berburu air di sumur umum, yang kondisinya memprihatinkan. Satu sumur terlihat sekitar 50 pipa, Rabu (20/3) siang. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos

batampos.co.id – Debit air Waduk Sei Jago di Desa Lancang Kuning Kecamatan Bintan Utara terus menyusut. Setiap hari, penyusutan air mencapai 4 sentimeter. Kondisi ini diperparah bocornya dinding waduk sehingga air terbuang sia-sia.

Kasubsi Produksi PDAM Tirta Kepri Cabang Tanjunguban, Zulkifli menjelaskan, sejauh ini belum terjadi penurunan jam operasi Waduk Sei Jago. Waduk masih beroperasi 18,5 jam sehari.

Namun demikian, debit air Waduk Sei Jago terus menyusut.

Bila beberapa waktu lalu, debit air berkisar 1,30 meter, saat ini debit air sudah berkisar 1,13 meter.

“Karena cuaca panas cukup tinggi, penyusutan bisa mencapai 4 sentimeter per hari,” kata lelaki yang akrab disapa Kif ini.

Kif mengatakan, penyusutan debit air yang terjadi di Waduk Sei Jago sudah memasuki bulan ke empat. Biasanya debit air normalnya di ketinggian 3,8 meter, sekarang sudah 1,13 meter.

Untuk produksi air, katanya masih berkisar 2.352 kubik per hari. Pengoperasian distribusi air diberlakukan tiga shift mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB. Kemudian pukul 14.00 WIB sampai sekitar pukul 22.00 WIB dan pukul 22.00 WIB sampai pukul 07.00 di hari berikutnya.

Dari produksi air yang dihasilkan, dia menyebut didistribusikan melalui dua sistem. Pertama gratifikasi artinya dari daerah yang tinggi ke daerah yang rendah. Kedua bay pas langsung pompa misalkan di daerah terjauh seperti di Perumahan Bintang Lima dan Kampung Baru.

Disinggung terkait adanya dinding waduk yang bocor? Dia mengakui. “Nah itu yang sakitnya ada bagian (dinding) waduk yang bocor,” kata dia.

Pihaknya sudah berupaya memperbaikinya. Namun, sejauh ini belum diketahui sumber kebocorannya.

“Saya sudah masuk ke dalam lubangnya untuk mencari sumber bocornya, namun belum ketemu. Anak juga melarang saya masuk lebih dalam, takutnya dindingnya roboh. Jadi sementara ini saya tutup dengan karung,” kata mantan Kepala Cabang PDAM Daik Lingga ini.

Selain itu, masalah yang dihadapi PDAM Tirta Kepri Cabang Tanjunguban, banyak hutan sebagai penyimpan air yang gundul dibabat.

“Saya sudah minta ke Kehutanan supaya memindahkan masyarakat yang berkebun di dekat waduk,” ungkapnya.

Kepala PDAM Tirta Kepri Cabang Tanjunguban, Mamat, mengatakan, akan melihat kondisi air di waduk satu pekan ke depan. Jika penyusutan debit air sudah di bawah 1 meter, maka pihaknya akan mengurasi produksi.

“Kita lihat seminggu ke depan. Kalau pasokan air InsyaAllah sebulan ke depan masih cukup. Semoga belum ada pendistribusian bergilir,” katanya.

Terkait lubang dinding waduk yang bocor, ia mengatakan, sudah menindaklanjuti laporan tersebut ke Balai Wilayah Sungai (BWS).

“Tahun ini ditindaklanjuti. Akan ada perluasan waduk ke depan dekat jalan, tapi tak luas. Sekaligus menyelesaikan masalah dinding waduk yang bocor, karena sampai sekarang kami belum menemukan sumber kebocorannya,” kata dia.

Sementara itu, kondisi kekeringan air dialami lebih dari 200 Kepala Keluarga (KK) di Perumahan Lobam Mas Asri (LMA), Kelurahan Tanjungpermai, Kecamatan Seri Kuala Lobam.

Warga di perumahan yang dibangun di atas timbunan bakau itu, mengandalkan sumur umum yang kondisinya memprihatinkan.

Pantauan Batam Pos di lokasi sumur umum, setidaknya ada 4 sumur umum yang dibangun. Namun 1 sumur bisa lebih 50 pipa yang mengambil air ke dalam sumur.

Air yang keluar dari mata air sumur tersebut pun kondisinya memprihatinkan. Bukannya banyak, air yang baru keluar bercampur lumpur langsung disedot.

Masih di lokasi yang sama, ada sebuah kubangan yang sengaja dikeruk pihak developer untuk sumur umum juga. Ada banyak pipa yang menjulur ke dalam kubangan tersebut. Di lihat dari  atas, airnya keruh dan berbau.

Seorang warga perumahan itu, Ari menuturkan, sumur umum dibangun developer. Karena untuk membangun sumur di masing-masing perumahan tidak memungkinkan.

“Di sini dulu rawa, bakau yang ditimbun. Airnya payau,” kata dia.

Dia mengatakan, 1 sumur bisa lebih 50 pipa yang mengambil  airnya. Saat ini katanya ada 4 sumur umun. Rencananya akan akan 1 sumur umum lagi yang akan dibangun.

“Kubangan digali sama developer. Untuk biaya pembelian cicin sumur dari warga. 1 rumah ditarik Rp 110 ribu. Kadang ada yang tidak bayar juga kendala keuangan. Ada 1 rumah tidak kerja semua. Jadi tidak bisa kita paksa juga,” katanya.

Sumur ini, katanya disedot airnya 24 jam. Yang mau mengambil air, datang ke sini.

“Pokok ya siapa yang nak nyedot ke sumur. Karena orang berebut airnya. Siapa yang mau air ke sumur. Pompanya di rumah. Harus ada yang di sini untuk menggoncangkan pipa.

Kalau tak gitu, yang disedot pompa cuma angin aja.

Karena kondisi air sedikit,” kata dia. Dia mengatakan, sebenarnya beberapa tahun lalu dibangun pipa jaringan induk dari SPAM Seri Kuala Lobam yang berada di Kampung Lepan Desa Kuala Sempang Kecamatan Seri Kuala Lobam.

“SPAM sudah dibangun tapi tidak jalan sudah lama. Tidak pernah ngalir. Dari pertama buka tidak jalan,” ujarnya.

Warga lainnya, Taufik mengatakan, warga sebenarnya tidak mempermasalahkan biayanya, asalkan pemerintah bisa menyediakan air bersih untuk masyarakat.

“Kalau masalah biaya, kita bisa tapi dari PAM tidak jelas.

Saya dari tahun 2014 sampai sekarang belum pakai air SPAM.

Pipa sudah dihubungkan tapi tidak jalan juga,” kata dia. Bahkan ada masyarakat sudah bayar uang pendaftaran dan pemasangan pipa, namun tidak jalan.

“Akhirnya, uang tersebut dibalikkan separuh, misalkan yang sudah setor Rp 1 juta dibalik jadi Rp 500 ribu,” kata dia.

Sementara itu, Kepala UPT Pengelolaan Air SPAM pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bintan, Djoko Moeljono belum berhasil dihubungi terkait SPAM Seri Kuala Lobam yang belum beroperasi. Padahal tahun 2018, Pemkab Bintan mengucurkan anggaran sekitar Rp 412 juta untuk pembelian spare part rusak. Namun, SPAM tersebut tetap belum mendistribusikan air ke masyarakat.

Sementara Sekretaris SPAM Seri Kuala Lobam, Suhadi menjelaskan, tahun lalu sekitar Rp 400 juta dikucurkan diantaranya untuk panel listrik dan perbaikan material yang rusak.

Tahun 2019 ini, katanya akan dibantu dari APBN untuk optimalisasi SPAM.

“Koordinasi dengan Satker, masih dalam proses lelang.

Kita menunggu, karena kalau sampai beroperasi ditargetkan 700 pelanggan,” pungkasnya.(met)