Metro Bintan

Seniman Dunia Terpikat Cantiknya Danau Lagoi Bay Bintan

Karya Seni ke-139 Bisa Dinikmati Wisatawan

Seniman dunia asal San Fransisco, Eames Demetrios berimajinasi di bebatuan dekat karya seninya yang masih dikerjakan di sudut cantik tepian danau Lagoi Bay, Senin (25/3). F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos

batampos.co.id – Sebuah karya seni buah pemikiran seniman dunia asal San Fransisco, Eames Demetrios bisa dinikmati wisatawan di sudut cantik tepian danau Lagoi Bay, Kawasan Pariwisata Bintan Resort.

Bahkan imajinasi pengunjung seolah terbawa ke alam lain saat membaca kisah dongeng yang dituliskan dalam sebuah prasasti dari bagian karya seni tersebut.

Tak cuma itu, kedudukan karya seni yang diapit dua bebatuan raksasa menjadikan spot foto yang sangat indah bagi wisatawan yang suka berswafoto alias selfi.

Ketika ditemui di lokasi pemasangan karya seninya di tepian danau Lagoi Bay pada Senin (25/3) sore, seniman yang menganut aliran seni instalasi ini memilih Bintan karena bentangan alam Bintan khususnya danau Lagoi Bay yang luar biasa menarik nan indah.

“Bentangan alam Bintan luar biasa,” ungkap dia.

Bintan menjadi tempat karya seni ke sebelas di Indonesia.

Sebelumnya dia menghasilkan karya seni di sejumlah pelosok Tanah Air diantaranya di Pulau Jawa, Bali, serta Lombok.

Sedangkan di dunia, ini menjadi karya seni ke 139. Karya-karya seni lainnya bisa dinikmati dan tersebar di 28 negara dan 5 benua.

“Karya seni yang saya ciptakan berdasarkan imajinasi pribadi.

Cerita satu dengan sebelumnya saling berkaitan,” ungkap lelaki berkacamata ini.

Untuk menghasilkan karya seni instalasi tiga dimensi ini, dia memadukan sejumlah elemen diantaranya bahan perunggu, semen, dan batu.

Di tengah -tengah karya seni ini terdapat semacam prasasti mengisahkan rangkaian cerita dongeng.

“Jika membaca dongeng ini, seolah-olah kita berimajinasi berada di alam pararel,” kata dia.

Dia menceritakan sedikit kisah prasasti dalam karya seni yang dia hasilkan. Konon kisahnya seorang penyanyi menjadi saksi hidup aksi pembunuhan. Dia kemudian dicari-cari oleh pembunuhnya.

Akhirnya sang biduan  menyembunyikan wajah menawannya kendati keinginannya bernyanyi karena pita suaranya yang merdu tidak terbendung. Sang biduan tetap bernyanyi dengan menyembunyikan wajahnya menggunakan topeng.

Karya seni ini dinamai dengan nama “Lost in Scale” atau diterjemahkan sebagai “Tersesat dalam Skala.”

Untuk menyelesaikan proyek karya seni ini, ia memerlukan waktu lebih kurang 4 bulan.

Setelah 4 bulan yang lalu, Senin (25/3) dia kembali berkunjung ke Bintan untuk memasang karya seni tersebut.

“Tiga hari pemasangan, sudah selesai” kata seniman berusia 57 tahun ini sembari berharap karya seni ini bisa dinikmati semua pengunjung. (met)