Metro Bintan

UNBK di Bintan Diwarnai Padam Listrik dan Gangguan Sinyal

Siswa SMAN I Toapaya serius melaksanakan UNBK di sekolahnya pada Selasa (2/4) pagi. UNBK tahun ini menjadi UNBK pertama bagi sekolah yang berlokasi di Kecamatan Toapaya. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos

batampos.co.id – Hari kedua pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di sejumlah SMA se-Kabupaten Bintan pada Selasa (2/4) kemarin berlangsung lancar.

Hanya saja di SMA Negeri I Toapaya sedikit mengalami gangguan karena  pemadaman listrik sekitar 15 menit.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMA se-Kabupaten Bintan, Gafur menyampaikan, sejauh ini pelaksanaan UNBK maupun Ujian Nasional berbasis Kertas Pensil (UNKP) di Kabupaten Bintan berjalan lancar.

Dia menyebut, ada beberapa sekolah yang sudah melaksanakan UNBK diantaranya SMAN I Bintan Timur, SMAN I Toapaya, SMAN I Teluk Bintan, SMAN I Bintan Utara dan SMA YKPP.

Sedangkan beberapa sekolah masih melaksanakan UNKP diantaranya SMAN I Teluk Sebong, SMA di Mantang, SMA di Numbing dan lainnya.

Disinggung adanya pemadaman listrik saat pelaksanaan UNBK di SMAN I Toapaya, diakui dia.

“Hanya sekitar 15 menit, namun berjalan normal. Diduga gangguan saja,” kata Kepala SMAN I Bintan Timur.

Sementara itu, Kepala SMAN I Toapaya, Abdul Jamil mengatakan, ini tahun pertama sekolahnya melaksanakan UNBK. Tahun sebelumnya siswa peserta UN masih menggunakan manual kertas dan pensil.

“Baru tahun ini sekolah kami UNBK, tahun lalu masih UNKP,” kata dia.

Dia juga mengatakan, sekolahnya memanfaatkan 1 ruangan laboratorium bahasa untuk pelaksanaan UNBK.

Dikarenakan peserta UNBK tahun ini di sekolahnya berjumlah 139 siswa, sehingga 1 ruangan dibagi menjadi 3 sesi.

Dimana sesi I dan sesi II terdiri 47 siswa sedangkan sesi III 45 siswa.

Sejauh ini dikatakannya belum ada kendala. Hanya sempat terjadi pemadaman listrik saat pelaksanaan UNBK.

“Sempat padam beberapa menit,” katanya.

Sementara Kepala SMAN I Teluk Sebong, Ramzan mengatakan, di sekolahnya masih menggunakan UNKP.

Pihak sekolah, katanya sudah berusaha agar tahun ini bisa UNBK namun sinyal yang terpancar terlalu kecil karena terhalang bukit.

“Operator sempat menawarkan semacam antena namun biayanya Rp 60 juta. Saya mau dapat dari mana duit sebanyak itu. Kami tidak mungkin bebankan siswa agar bisa paksakan UNBK. Jadi biarlah,” tutup dia.(met)