Metro Bintan

DLH Bintan Ambil Sampel Air di Sungai Kawal Terkait Matinya Ratusan Ikan di Keramba

Tim DLH Bintan menguji kadar PH air yang diambil dari keramba tempat matinya ikan nelayan, kemarin. F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos.

batampos.co.id – Tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bintan bersama Dinas Perikanan Kabupaten Bintan dan sejumlah nelayan Kawal menggunakan pompong, menyisir sungai Kawal tidak jauh dari Jembatan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang pada Selasa (30/4) sekitar pukul 10.00 WIB. Tim turun ke sungai untuk mengambil sampel air setelah menerima laporan matinya ratusan ikan keramba di sungai tersebut. Sampel yang diambil sebanyak 2 liter.

Pengambilan sampel dilakukan di dua titik. Pertama di anak sungai. Sampel kedua diambil di keramba milik nelayan yang beberapa waktu lalu ditemukan ikan mati.



Selanjutnya, air dicek dengan alat ukur kadar air. Dari pengecekan tersebut, kadar air di sungai Kawal menunjukkan angka 4 artinya air mengandung kadar asam kategori rendah sehingga disimpulkan sementara tidak aman.

Petugas BLH Bintan, Yuli mengatakan, pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab matinya ikan di keramba nelayan. Hanya, dua sampel air akan dibawa ke laboratorium di Batam.

“Hasilnya baru diketahui 3 minggu mendatang. Nanti kita akan kirimkan hasilnya ke nelayan,” kata dia.

Sementara Kasi Pendamping, Pembudidayaan dan Kesehatan Lingkungan di Dinas Perikanan Bintan, Salmon menuturkan, pihaknya belum bisa mengidentifikasi penyebab matinya ikan keramba milik nelayan.

Dilihat dari lokasi tempat matinya ikan keramba, ia mengatakan, sungai ini banyak kontribusi pencemaran. Bisa dari lalu lalang kapal, limbah rumah tangga seperti deterjen dibuang di situ.

“Secara kasat mata tidak layak di sini dijadikan budidaya ikan,” kata dia.

Kemudian, secara teori, masih katanya, kadar PH 4 artinya air tidak baik, karena mengandung kadar asam. “Tidak sesuai untuk pertumbuhan ikan karena bisa menganggu produktivitas ikan. Bagusnya kadar air 6 sampai 9,” kata dia.

Seorang nelayan yang ikannya mati, Gafar mengatakan, sudah 3 kali kejadian yang menyebabkan ikannya mati. Hanya, kali ini banyak ikannya yang mati. “Sudah 3 kali, ini lebih aneh karena ada macam kapur warna putih-putih,” kata dia.

Dia mengaku, sekitar seratusan ekor ikannya mati. “Ya kita rugi akibat kejadian ini, kerugian sekitar Rp 7 juta,” kata dia. (met)

Loading...