Nasional

Inflasi Lebaran Tinggi, Terkerek Harga Cabai dan Bawang

SEORANG pembeli sedang memilih cabai yang akan dibeli di Batam Center. (Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos)

batampos.co.id – Seperti tahun-tahun sebelumnya, inflasi Lebaran kali ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Namun, angkanya tidak terlalu jauh berbeda dengan yang lalu. Harga komoditas menjadi faktor utama yang memicu tingginya inflasi. Tepatnya harga cabai, bawang putih, dan bawang merah. Meski begitu, inflasi tahun ini tidak melampaui target pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memprediksi inflasi Lebaran mencapai 0,6 persen. Sebab, harga tiga komoditas pangan itu masih tinggi hingga pekan kelima Mei. “Sampai akhir bulan, harga cabai dan bawang putih masih tinggi dan naik,” katanya beberapa waktu lalu.

Semula, Darmin berharap harga tiga komoditas tersebut kembali normal saat memasuki Lebaran. Sebab, waktunya bersamaan dengan panen raya. “Semestinya karena sudah panen itu (harga) mulai turun. Yang sempat naik tinggi itu bawang putih,” ungkapnya.

Darmin menyatakan, angka inflasi itu masih berada dalam batas normal jika dibandingkan dengan periode Lebaran tahun lalu. Tahun lalu perayaan Idul Fitri jatuh pada 15 Juni. Saat itu inflasi Juni tercatat 0,59 persen.

“(Inflasi tahun ini, Red) Bisa meleset, tapi perkiraan saya nggak jauh,” ujarnya. Pada bulan-bulan normal, inflasi berkisar 0,3 persen.

Dia juga memprediksi inflasi 2019 berada pada angka 3,5 persen. Angka itu masih sesuai target inflasi tahunan yang ditetapkan pemerintah (3,5 persen). Meski mengalami kenaikan karena harga komoditas pangan cukup tinggi saat ini, dampak inflasi hanya akan bersifat sementara. Jadi, angka inflasi tidak bakal terpengaruh secara keseluruhan.

“(Harga, Red) Cabai dan bawang boleh naik, tapi bisa turun lagi. Beda dengan beras, kalau sudah naik, turunnya dikit,” jelas Darmin.

Di tempat terpisah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan hasil survei pemantauan harga. Menurut dia, sampai pekan kelima Mei, angka inflasi masih tetap rendah. Yakni, pada level 0,47 persen secara month-to-month (mtm).

“Sementara untuk inflasi secara tahunan (year-on-year) itu 3,1 persen,” terangnya.

Perry menyebutkan, beberapa komoditas pangan lain yang berkontribusi terhadap inflasi adalah daging ayam dan dan beberapa jenis buah. Faktor yang menyumbang deflasi adalah harga beras, tarif angkutan udara, dan harga beberapa jenis sayuran.

Rendahnya tingkat inflasi hingga pekan kelima Mei tersebut, kata Perry, tidak terlepas dari peran pemerintah pusat dan daerah serta BI dalam menjaga kestabilan harga. “Alhamdulillah, harga-harga terpantau rendah terkendali. Stok di seluruh Indonesia juga cukup,” ungkapnya.

Sementara itu, ekonom Asian Development Bank (ADB) Institute Eric Alexander Sugandi memprediksi inflasi Mei 2019 berada di level 5,5 persen (mtm) dan 3,18 persen (yoy). Menurut dia, kenaikan harga bahan makanan dan tiket transportasi menjadi penyebab utama inflasi.

“Selain itu, item komunikasi dan rekreasi mendorong inflasi,” paparnya saat dihubungi kemarin (7/6). (vir/ken/c14/hep/jpg/gun)