Pariwisata

Lewat Parasnews, Pelajar Perbatasan Promosikan Wisata dan Budaya Tambelan

Sejumlah pelajar yang tergabung dalam Parasnews menjadi jurnalis perbatasan saat mewawancarai Kapolsek Tambelan Ipda Missyamsu Alson di Mapolsek Tambelan, belum lama ini. F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos

PRO BINTAN – Lewat wadah media lokal bernama Parasnews, sejumlah pelajar yang ada di Kecamatan Tambelan, Bintan mempelajari dunia jurnalistik.

Ilmu yang mereka  dapatkan, kemudian mereka terapkan langsung di lapangan.

Ibarat menjadi wartawan yang sesungguhnya, mereka melaporkan perihal budaya dan wisata serta segala hal peristiwa yang berlaku dari wilayah  perbatasan.

Tambelan merupakan wilayah perbatasan. Kecamatan terluar sekaligus terjauh di Kabupaten Bintan.

Letaknya lebih dekat dengan Singkawang, Kalimantan Barat. Tak heran sebagian besar kebutuhan termasuk LPG 3 Kilogram (Kg) disuplai dari provinsi tetangga.

Banyak hal menarik lainnya bisa digali dari Tambelan. Wisata alam yang masih “perawan” dan budaya. Potensi ini adalah citra dari Tambelan sebagai daya tarik, akan tetapi tidak terpantau dengan baik.

Ditambah lagi, status Tambelan yang masuk sebagai daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T) membuat Tambelan harus terisolir dari segala kemajuan informasi dan teknologi yang sebanding dengan daerah perkotaan.

Bertolak dari itu, muncul ide untuk membantu mempromosikan Tambelan agar lebih dikenal di Tanah Air dan terlepas dari keterisoliran.

“Upaya ini hanya bisa dilakukan oleh pers. Maka dari itu, pada 30 Januari 2018, dibentuklah suatu wadah pemberitaan dengan nama Parasnews,” kata salah seorang pembina Parasnews, Saud.

Usai pemberian nama, Saud bersama Syafriadi membentuk menejemen redaksi Parasnews yang waktu itu terbilang rumit, karena ternyata jurnalistik di Tambelan terbilang suatu yang baru.

Sehingga, muncul suatu ide perekrutan dengan membentuk ekstrakurikuler jurnalistik di SMA Negeri 1 Tambelan yang mengacu pada Pemetaan Mutu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Di sisi lain, tentu ada pertanyaan bahwa mengapa harus di SMA. Jawabnya, karena diusia tingkat SMA generasi muda sudah mampu mengkritik, menganalisa, dan memiliki kepekaan sosial, sehingga Parasnews ini lah, generasi muda Tambelan ingin menyampaikan, mendeskripsikan seperti apa wajah Tambelan. Baik dari sisi budaya, sosial, pariwisata, dan sebagainya.

Selain itu, mengingat SMA bukan sekolah kejuruan, sehingga perlu ada keahlian yang dipupuk oleh generasi Tambelan, yaitu ilmu jurnalistik meliputi kemahiran berbicara, menyimak, menulis, dan membaca.

Selanjutnya, perkembangan jaman dan teknologi saat ini membuat celah positif yang bisa dimanfaatkan untuk melepaskan Tambelan dari keterisoliran selama berabad lamanya.

Oleh karena itu, meskipun hanya ekstrakurikuler, tapi Parasnews optimis dapat membantu mempromosikan Tambelan.

Dengan memberikan sedikit sosialisasi tentang jurnalistik di SMA Negeri 1 Tambelan dan peran jurnalis untuk negeri. Parasnews berhasil merekrut sekitar 12 jurnalis muda yang terdiri dari siswa kelas XI IPA dan IPS pada tahun perdana 2018.

“Kami tidak langsung tampil di lapangan, karena saya harus melakukan pembinaan dan bimbingan khusus kepada calon jurnalis terkait proses liputan meliputi, teori unsur 5W1H, wawancara, pengambilan foto, dan penulisan,” tuturnya.

Setelah berjalan kurang lebih sebulan, Parasnews mulai menampakkan diri dengan slogan Tampil – Nyata – Berkarya, dan keluarlah edisi pertama pada 13 Maret 2018 yang terdiri dari 4 halaman berbahan HVS yang dilipat simetris.

Edisi pertama itu dicetak sebanyak 50 eksemplar dan dibagikan secara gratis ke insansi desa, kecamatan, unit kerja pemerintah dan sejumlah masyarakat.

“Parasnews pun mulai jadi pembicaraan di tengah masyarakat, dari banyak hal yang dibicarakan tentang Parasnews hanya 1 yang dapat kami ambil hikmah, yakni penambahan halaman khusus ilmu pengetahuan,” ungkapnya.

Dari edisi pertama yang diagendakan terbit rutin selama 2 pekan, baru lah pada edisi ke-2 Parasnews terdiri dari 8 halaman dengan penambahan konten berupa cover berisikan berita budaya di Tambelan, halaman ke-2 tentang berita umum di Tambelan, halaman 3 ilmu pengetahuan umum, halaman 4 aspirasi dari guru, tokoh masyarakat, bahkan wali murid, halaman 5 aspirasi siswa SMA Negeri 1 Tambelan, halaman 6-7 tentang sastra, dan terakhir sebagai halaman fotografi seputar peristiwa di Tambelan.

“Segala konten yang dimuat di Parasnews dilakukan semua oleh siswa SMA Negeri 1 Tambelan, tentunya selalu kami dampingi untuk melihat etika dan praktik berwawancara mengingat para jurnalis masih pelajar,” kata Saud.

Sambung dia, Parasnews memiliki mekanisme dalam pembuatan berita. Misalnya dalam pembagian tugas, jurnalis ditugaskan menuangkan ide tentang konten menarik seputar Tambelan, pengaturan jadwal liputan, pengaturan pengetikan, dan pengaturan jadwal penyebaran koran.

“Untuk fasilitas liputan, pada 2018 Parasnews masih menggunakan kamera android dari masing-masing siswa, laptop dari pembina,” tutur Saud.

Sedangkan untuk faslitas kantor, listrik, konsumsi, Parasnews menggunakan rumah dengan biaya listrik dan kebutuhan konsumsi dari Syafriadi di Desa Melayu.

Sebagaimana yang disampaikan Syafriadi, bahwa apa yang telah ia berikan untuk Parasnews adalah suatu upaya membangun Tambelan.

“Apa yang bisa saya bantu, slalu saya bantu, Insya Allah suatu hari nanti jurnalis Parasnews menjadi orang hebat semuanya, dan bisa memajukan Tambelan,” tutur honorer penjaga SMA Negeri 1 Tambelan tersebut.

Di samping memiliki hobi menulis puisi, Syafriadi juga ikut terlibat dalam menseleksi konten sastra untuk Parasnews yang pengirimnya terbuka untuk umum dan khusus siswa SMA Negeri 1 Tambelan.

Untuk mempermudah belajar jurnalistik, SMA Negeri 1 Tambelan mensupport berupa kertas HVS, komputer 1 unit, dan printer yang dipinjamkan dan digilir dengan kebutuhan tata usaha sekolah.

“Mungkin karena sulitnya ilmu jurnalistik, dari 12 jurnalis berkurang menjadi 7 jurnalis pada generasi pertama 2018. Tapi seiring waktu, Alhamdulillah pada generasi ke-2 2019 jumlah bertambah jadi 13 jurnalis,” tuturnya.

Selang 1 tahun, Parasnews banting setir. Dari media konvensional menjadi media online dengan publikasi sederhana melalui media sosial instagram @parasnews_sman1tambelan berupa slidevideo, dan berita foto.

Meski masih menggunakan fasilitas dari pembina, tetapi “Alat perang” Parasnews semakin lengkap mulai kamera, laptop hingga mikrofon sendiri. Bahkan mereka sekarang memiliki seragam Parasnews sendiri sehingga semakin mudah dikenali ketika melakukan peliputan kegiatan di Tambelan.

Dari konten budaya yang dimuat, Parasnews mendapatkan sertifikat dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau tentang pencatatan budaya di Tambelan. Sertifikat ini diberikan karena pada halaman 1 Parasnews bertemakan budaya. Seperti makan sirih, anyaman bambu, gendang ta, dan lain-lain.

Serta mendapat kesempatan berdialog di RRI Pro 3 tentang kegiatan Parasnews, dan Pro 4 tentang Budaya Tambelan pada 2018.

“Meski masih skala kecamatan, tapi berita Parasnews juga kami sisipkan di media online lainnya, dengan tujuan untuk mengembangkan lagi gerak publikasi Parasnews untuk Tambelan,” tegasnya.

Melalui Parasnews ini lah, generasi muda Tambelan ingin menyampaikan, mendeskripsikan seperti apa wajah Tambelan. Baik dari sisi budaya, sosial, pariwisata, dan sebagainya. (met)