Peristiwa

Pengungsi Imigran Berkeliaran, Petani Toapaya Ketakutan

Ketua RW 005 Toapaya Asri, Syahri menyampaikan keluhan petani kebun terkait keberadaan pengungsi yang berkeliaran di Toapaya dalam sosialisasi dan dialog menciptakan kerukunan dan ketentraman bersama di lingkungan masyarakat dan pengungsi di Bintan yang dilaksanakan di balai pertemuan Kantor Lurah Toapaya Asri, Senin (1/7). F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

PRO BINTAN – Sejumlah petani kebun di Kelurahan Toapaya Asri, Kecamatan Toapaya, Bintan ketakutan. Pasalnya, pengungsi imigran yang ditampung di Hotel Bhadra Resort masih sering berkeliaran.

Hal ini diungkapkan Ketua RW 005, Syahri dalam sosialisasi dan dialog menciptakan kerukunan dan ketentraman bersama di lingkungan masyarakat dan pengungsi di Bintan yang dilaksanakan di balai pertemuan Kantor Lurah Toapaya Asri, Senin (1/7).

Dia mengatakan, awalnya petani di Toapaya Asri berani mengolah lahannya mulai dari pagi sampai sore, bahkan ada yang sampai magrib di kebun.

“Namun, sekarang mereka ketakutan dengan adanya pengungsi yang berkeliaran,” ujarnya.

Dia berharap, ada patroli yang mengawasi para pengungsi sehingga mereka tidak bebas berkeliaran di luar tempat penampungan mereka.

Kemudian, saran dia, agar dibuat aturan yang mengikat misalkan batas keluar malam bagi para pengungsi. Sehingga kejadian di luar kemungkinan bisa diminimalisir.

Sementara Sekretaris Kesbangpolinmas Bintan, Jamsuri menjelaskan, sudah ada Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat yang dibentuk di tingkat desa, kelurahan, kecamatan bahkan kabupaten.

Forum ini, lanjutnya menerangkan menerima segala bentuk laporan yang terjadi di masyarakat termasuk apabila menemukan pengungsi atau menemukan kasus yang sifatnya melanggar idiologi, politik, dan lainnya.

“Langsung Whatsapp saja ke grup, nanti ditindaklanjuti,” kata dia.

Dia juga menerangkan bahwa sebenarnya sudah dibuat aturan pembatasan jam keluar bagi pengungsi imigran. Dimana berdasarkan tata tertib, pengungsi imigran hanya boleh keluar sampai sekitar pukul 18.00 WIB.

“Kalau lewat dan jumpa, bila perlu fotokan, kirimkan ke kami nanti kami tindaklanjuti,” kata dia.

Kepala Rudenim Pusat Tanjungpinang, Muhammad Yani Firdaus menjelaskan sebenarnya pihaknya sudah sejak awal  menetapkan aturan bagi para pengungsi. Termasuk pembatasan jam keluar malam.

“Aturan ini ditempel di kamar-kamar pengungsi. Kemudian kita juga setahun, dua sampai tiga kali melakukan sosialisasi ini,” kata dia menjawab.

Saat ini, dia mengatakan, pihak Pemda sebagai leading sector penanganan pengungsi sedang mengodok Perda yang akan mengatur tata tertib secara menyeluruh tentang keberadaan pengungsi di Kabupaten Bintan.

“Kalau sudah ada, nanti kita bersama sosialisasikan,” kata dia.

Sosialisasi ini menghadirkan pihak IOM, UNHCR Indonesia, Kesbangpolinmas Bintan dan Polres Bintan. (met)