Metro Bintan

Petugas Temukan Daging Kurban Terinjak-injak

Tidak Adanya Pembatas Khusus

Kepala Seksi Kesehatan Hewan DKPP Bintan, drh Iwan Berri Prima saat memeriksa daging kurban ketika melakukan pengawasan kesehatan dan daging kurban pada Hari Raya Idul Adha 1440 H, Minggu (11/8). F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

PRO BINTAN РDinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bintan bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Kepulauan Riau melakukan pengawasan kesehatan dan daging kurban pada Hari Raya Idul Adha 1440 H dengan mendatangi  sejumlah tempat pemotongan hewan kurban di Kabupaten Bintan, Minggu (11/8).

Hasilnya, petugas masih menemukan masyarakat yang melakukan proses daging kurban sambil merokok bahkan petugas menemukan banyak daging kurban terinjak-injak.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan DKPP Bintan, drh. Iwan Berri Prima menjelaskan, di lapangan masih ditemukan masyarakat yang merokok sambil memproses daging.

Padahal, sebelumnya petugas DKPP Bintan telah mengingatkan panitia pemotongan  hewan kurban agar tidak merokok.

“Kalau mau merokok sebaiknya saat kondisi istirahat. Tidak dalam sedang memproses daging,” kata dia.

Selain itu, dalam pengawasan itu, dia mengatakan, masih banyak masyarakat yang tidak membuat pembatas khusus atau tirai sehingga banyak anak kecil yang dengan bebas melihat proses penyembelihan hewan kurban.

“Padahal ini mengandung unsur kekerasan dan ada darah di sana,” jelasnya.

Kondisi ini menyebabkan massa banyak berkerumun. Akibatnya membuat hewan pun stress.

“Bahkan karena tidak ada pembatas, kami menemukan banyak daging yang terinjak-injak tanpa disadari,” kata dia.

Hal ini kata dia menyebutkan karena tidak adanya tanda larangan.

“Kalau semua bisa masuk ini berpotensi pencemaran daging dan menghambat kerja,” kata Sekretaris Umum PDHI Cabang Kepri.

Kendati demikian dari hasil pengawasan terhadap daging kurban,  dia mengatakan, hingga saat ini belum ada laporan ditemukan kasus penyakit atau ketidaklayakan daging hewan kurban.

“Setelah dilakukan pengawasan baik pemeriksaan antemortem (sebelum hewan dipotong) dan post mortem (setelah hewan disembelih), tidak ada kasus hewan kurban berpenyakit dan mengandung penyakit,” katanya.

Adapun petugas kesehatan hewan yang melakukan pengawasan berjumlah 16 orang terdiri dari 4 dokter hewan dan 12 paramedis veteriner yang tersebar di 7 kecamatan di Bintan yakni di Kecamatan Bintan Utara, Seri Kuala Lobam, Teluk Sebong, Teluk Bintan, Gunung Kijang, Bintan Timur dan Toapaya, yang tersebar kurang lebih di 42 titik tempat pemotongan baik di masjid, musala dan lapangan. (met)