Peristiwa

Nelayan Keluhkan Limbah Restauran dan Tour Mangrove di Pelabuhan Panjang Sei Kecil

Bangunan restauran yang dibangun di atas laut pelabuhan Panjang, Desa Sebong Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong, Bintan. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

PRO BINTAN – Sejumlah nelayan Sungai Kecil Desa Sebong Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong, Bintan merasa terganggu adanya aktivitas restauran yang beroperasi di Pelabuhan Panjang Sungai Kecil.

Terlebih sejak bangunan restauran yang berada di atas laut seluas 800 meter per segi disewakan dan dibuka usaha tour mangrove.

Ketua Kelompok Nelayan Sebong Lagoi, Zulkufli menyampaikan, nelayan terganggu. Yang pertama bayangkan limbah dari aktivitas restauran di pelabuhan diduga mencemari lingkungan di sekitar perairan.

“Cuci piring dan buang air, limbahnya ke laut semua,” kata dia.

Selain itu, aktivitas tour mangrove juga membuat alur nelayan mencari ikan terganggu.

“Penyempitan alur tangkap nelayan yang pasti. Karena speedboat keluar masuk membuat aktivitas nelayan terganggu, bayangkan kalau pas kami memasang bubu,” kata dia.

Dia menjelaskan, pelantar panjang dibangun pada 2004. Awalnya pelantar akan digunakan sebagai pelabuhan domestik Batam-Sebong Lagoi.

Namun, karena tidak digunakan. Akhirnya dimanfaatkan nelayan setempat.

7 tahun lalu, seorang pengusaha bernama Awi membangun restauran di atas laut dengan luas 700 meter persegi.

Tapi, 1 Agustus 2019, restauran itu disewakan ke pengusaha lainnya bernama Atong dengan nilai kontrak Rp 80 juta setahun. Oleh Atong, bukan hanya restauran namun dia membuka usaha tour mangrove.

“Yang kami sayangkan juga Pak Kades ikut menandatangani di kontrak itu. Harusnya rembuk dulu la sama nelayan,” kata dia.

Dia mengatakan, selama adanya resturan ini tidak ada sama sekali bentuk kepedulian pengusaha terhadap nelayan setempat.

“Tak ada sama sekali. Kami berharap la, adanya restauran juga memberikan kontribusi ke kami. Tenaga kerja juga diambil dari masyarakat tempatan sini,” ujarnya.

Sementara itu, Kades Sebong Lagoi, Abu Bakar menyampaikan, sebenarnya pelantar tersebut pelantar umum, bukan pelantar nelayan.

Pelantar tersebut, dulunya untuk pelabuhan transit dari Batam ke Sei Kecil baru ke Lagoi.

“Bukan pelantar nelayan,” kata dia.

Dia juga membenarkan bahwa bangunan di pelabuhan tersebut disewakan dari pihak Awi ke Atong.

“Saya tanda tangan bukan sebagai kades,” kata dia.

Dia berharap masalah ini sebaiknya didudukkan ke desa dahulu. (met)