Peristiwa

Simpan 119,2 Kg Sabu, Dua Sopir Bus Sekolah di Bintan Diamankan

Ketua RT setempat menunjukkan rumah yang dipolice line karena ditemukan sabu seberat 119, 2 kg di Jalan Antasari, Gang Riang RT 01 RW 03 Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Teluk Sebong pada Jumat (30/8) sekitar pukul 22.10 WIB. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos

PRO BINTAN – Kepolisian Resor (Polres) Bintan melakukan pengerebekan sebuah rumah di jalan Antasari Gang Riang RT 001 RW 003 Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Teluk Sebong, Bintan pada Jumat (30/8) sekitar pukul 22.10 WIB.

Tiga pelaku diamankan masing-masing inisial AJ, pemilik rumah, S, warga Sebong Pereh dan AP, warga Desa Berakit.

Informasi berhasil dikumpulkan di lapangan, AJ dikabarkan diamankan di kawasan Panteng, Desa Sebong Pereh.

Dari penangkapan AJ, polisi melakukan pengerebekan di rumahnya.

Di rumah itu, polisi menemukan 120 paket diduga narkotika jenis sabu terdiri 119 paket masing-masing berat sekitar 1 kilogram dan 1 paket dengan berat sekitar 2 ons.

Sedangkan AP merupakan pengembangan. AP diamankan di Desa Berakit pada Sabtu (31/8) dini hari.

Ketua RT setempat, Karyati alias Atik menceritakan, malam itu, dirinya mengunjungi beberapa rumah warga.

“Hape kecil tertinggal di rumah. Saya cuma bawa hape WA (whatsapps),” kata wanita asli Jember, Jawa Timur.

Sekitar pukul 21.50 WIB, anaknya menghubungi drinya melalui telepon whatsapps.

“Kata anak saya, mamak ini pergi tak bawa hape kecil. Pulang ke rumah la, tadi ada orang nyariin. Saya jawab, nantila biasa kalau yang nyariin kalau penting, biasanya WA,” kata Atik menirukan anaknya.

Baru tiba di rumah, seorang warga menghampirinya. “Bue ke Gang Riang sekarang,” kata dia menirukan warga.

Dia awalnya berpikir mungkin ada warga yang sakit membutuhkan pertolongan atau ada perempuan masuk menyelinap ke rumah laki-laki.

Namun betapa kagetnya dia seketika tiba di Gang Riang. Di sana, sudah penuh dengan mobil. “Rupanya isinya sudah polisi semua, dari bawah ke atas sudah polisi semua,” kata dia.

“Tak ada warga yang berani keluar rumah,” kata dia menambahkan.

Dirinya masuk dari pintu samping rumah tersebut. Alangkah kagetnya dia melihat sebanyak 119 bungkusan diduga sabu.

“119 bungkus sekiloan, 1 bungkus 1 kilo,” ujarnya.

Bungkusannya menurut dia semacam alumunium foil tapi lembut.

Ditanya posisi barang haram tersebut? Ia mengatakan, 119 bungkus barang tersebut sudah berada di luar kamar.

“Posisi barang itu sudah di¬† luar kamar. Ada yang ditemukan di kamar, di bawah kasur, ada di bawah jok mobil tapi sudah berbentuk kemasan di dalam travel bag, ada 3 (travel bag). 1 bag ada yang 39 bungkus, ada yang 20 berapa bungkus gitu,” katanya.

Tak lama dia bertemu dengan AP dan S. AP dan S, menurut dia, sopir bus sekolah.

“Masya Allah kamu AJ, la ini barang apa toh lo. Ini tamu yang aku tegur kamu kemarin. Dah tak pernah gotong royong kamu. Ini tamu suruh minta KTP dari kapan juga. Kan kalau ada tamu, dibilangin lapor,” kata dia memarahi AP kala itu.

Saat itu dia juga mendengar polisi menginterogasi keduanya. S mengaku ke polisi bahwa barang haram itu darangnya seminggu yang lalu, sedangkan AJ mengaku baru 4 hari.

Akhirnya dia menyela interogasi polisi dan menanyakan ke tetangganya AJ soal keberadaan mobil rusak yang terparkir karena pecah ban di rumah tersebut.

“Ini mobil sudah ban bocor dua mingguan toh. Kata warga iya bue sudah mau dua minggu ada mobil rusak, nah sejak mobil itu rusak diduga barang itu sudah masuk,” kata dia.

Ada hal menarik pada saat pengerebekan itu. Dia mengatakan, pada saat ditemukan ada 119 bungkus sabu.

“Sejatinya 120 bungkus, S mengaku ada 120 bungkus akhirnya dibongkar semua, dihitung lagi dikasih angka dengan spidol permanen,” kata dia.

Kemudian S dibawa ke Desa Berakit. Tujuannya untuk menunjukkan alamatnya tersangka lainnya inisial AP.

“S diborgol pakai lakban, akhirnya dibawa ke Desa Berakit. Rupanya menjemput si AP. Sambil menunggu AP datang, kita masih menghitung ulang karena S bilang jumlahnya 120 namun ketemunya cuma 119 bungkus,” kata dia.

Sembari menunggu AP datang dari Desa Berakit, dia mengatakan, ada lelaki diduga polisi berbadan kurus.

“Ada 1 polisi, kok tak ramah sama sekali. Aku bilang ke dia, aku mau masuk ke situ, mau ambil air panas sama kopi. Tapi dia kok tak senyum. Tak lama Pak Kapolres memerintahkan ke lelaki itu. Dia disebut si endus untuk mencari 1 bungkus sabu yang belum ditemukan. Tak lama, rupanya ketemu 1 bungkus lagi di bawah mesin cuci, seukuran hape ini (android) antara 2 ons la,” kata dia.

Sabtu (31/8) sekitar pukul 03.00 WIB, dinihari, polisi mulai merapikan barang haram yang berhasil diamankan ke dalam travel bag. Pasalnya jumlah bungkusan sabu yang dicari sudah berjumlah 120 bungkus.

Sebelum polisi meninggalkan lokasi, dia menyarankan ke polisi untuk memeriksa bus sekolah yang biasa digunakan pelaku AJ untuk mengantar dan menjemput anak sekolah.

“Jadi dibuka la pintu bus, akhirnya saya dan pak polisi memeriksa bus dan anggotanya melaporkan tidak ada ditemukan di bus,” kata dia.

Saat itu, katanya semua ruangan dan barang yang ada di rumah tersebut sudah dibongkar semua.

“Rumah bagian depan, belakang samping sudah dibongkar semua, termasuk kursi kasur dah dibongkar pakai pisau semua. Termasuk mobil Kijang Kapsul yang dimodifikasi sudah dibongkar semua, sudah tidak ada lagi,” kata dia.

Dia juga menceritakan, bahwa AJ diamankan di Panteng, Desa Sebong Pereh. Saat itu mobil yang dinaiki AJ dihadang polisi.

“Awalnya AJ ketemu sama polisi di Panteng, Sebong. Tak tahu arahnya dari mana. Saya tanyanya bagaimana ceritanya sama polisi yang bongkar bus itu. Cuma tak tanya detail, apakah (AJ) habis transaksi,” katanya.

Waktu dihadang polisi di jalan raya daerah Panteng, Desa Sebong Pereh, AJ, menurut informasi yang dia dapat, sempat marah-marah ke polisi.

“Polisi yang menghadang AJ, minta AJ turun dan tes urine, namun AJ menolak tes urine. AJ bilang kalau dia tidak ngapa-ngapain, kenapa harus tes urine. AJ berkeringat, sudah pahamla polisi keringat AJ, antara keringat sehat dan tidak. Terus dibekuk, ditanya alamat rumah, barulah ke rumah. Di rumah ini, polisi mendobrak pintu rumah sampai engselnya lepas dan menangkap S serta menemukan sabu,” jelasnya.

Pengelola bus sekolah di Bintan, Syamsudin membenarkan bahwa AJ dan S merupakan sopir bus sekolah di bawah perusahan tempatnya.

“Iya bener, baru-baru aja mereka menjadi sopir bus sekolah,” kata dia.

Sementara itu, Kapolres Bintan AKBP Boy Herlambang hingga berita ini diturunkan enggan mengomentari kasus ini karena masih dalam pengembangan.

Hingga saat ini juga, belum diketahui asal barang haram itu. Namun diduga barang haram berasal dari Malaysia yang masuk melalui pelabuhan di Berakit, kemudian diangkut dengan mobil Kijang Kapsul yang sudah dimodifikasi, baru disimpan di rumah tersebut.

Dua unit mobil yang diduga diamankan karena terkait kasus sabu. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos

Dua Unit Mobil Ikut Diamankan

Dua unit mobil ikut diamankan dari pengeledahan rumah yang ditemukan 120 paket bungkusan sabu.

Dua unit mobil tersebut yakni Kijang BP 1126 TA dan Toyota Fortuner BP 1031 FD. Kedua unit mobil tersebut telah parkir di belakang kantor Satresnarkoba Polres Bintan di markas Polres Bintan, Bintan Buyu.

Pantauan Batam Pos di lokasi, di dalam mobil Kijang tersebut terdapat mesin cuci yang ikut diamankan. Kabar berkembang, selain dua mobil ini, masih ada 5 unit mobil lagi yang dikejar polisi karena diduga digunakan mengangkut sabu jaringan ini.

Atik, ketua RT setempat mengatakan, mobil Fortuner yang diamankan polisi merupakan mobil AP.

Kabar yang diterima Batam Pos, AP merupakan pemain penyelundupan TKI ilegal ke Malaysia melalui Desa Berakit.

Atik mengaku sempat bertemu dengan AP di salah satu jalan gang.

“Waktu itu dia parkir di jalan sembarangan. Saya tegur. Kemudian saya tanya bapak mau cari siapa, dia bilang saudaranya AJ,” kata Atik.

Atik juga curiga AJ mengangkut sabu dengan mobil Kijang kapsul tersebut. Sebab, mobil itu masuk dari samping pekarangan rumahnya. Dan tidak ada tetangga satupun yang mengetahui apa yang dikerjakan AJ.

Ketua RT setempat menunjukkan rumah yang dipolice line karena ditemukan sabu seberat 119, 2 kg di Jalan Antasari, Gang Riang RT 01 RW 03 Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Teluk Sebong pada Jumat (30/8) sekitar pukul 22.10 WIB. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos

AJ Tak Suka Berbaur dengan Warga

Sudah lamakah AJ tinggal di rumah tersebut? Atik menceritakan bahwa AJ pernah menikah dengan wanita bernama Yl.

“Rumah ini sebenarnya (bantuan ( bedah rumah, bukan dia yang bangun sendiri,” katanya.

AJ ini, menurut dia, tipikal orang kurang rajin. “Bukan pekerja keras, orangnya itu dah berapa kali saya minta ikut gotong royong sampai bibirku nyonyor tak berangkat,” kata dia.

AJ juga kata dia, belum lama menjadi sopir bus sekolah. “Termasuk belum lama. Dari dulu bukan sopir kerjanya. Tapi lebih la setahun menjadi sopir bus,” kata dia.

Sedangkan Yl bekerja sebagai buruh menjahit. Awalnya Yl juga tertutup terhadap lingkungannya.

Namun, setelah dinasehati oleh dirinya. Yl mau ikut kegiatan di masyarakat  seperti dasawisma dan PKK Namun, belakangan setelah dilarang oleh suaminya, Yl kembali tidak mau lagi berbaur dengan masyarakat.

Hubungan pernikahan AJ dan Yl kandas. Yl menceraikan AJ karena kasus KDRT.

“Waktu itu istrinya lapor ke saya. Saya sarankan lapor ke pak Babinsa atau Babinkamtibmas. Luka memar biru sudah menjadi bukti untuk melaporkan AJ saat itu,” kata dia.

Waktu itu juga keduanya tidak dikarunia anak. Namun, AJ dan Yl sempat mengangkat anak, namun usia anak tersebut tidak panjang.

“Ngambil anak, ngasuh tapi meninggal, meninggalnya pas dibawa ke kampung. (met)