Hukum-Kriminal

Sidak ke Toko, DKPP Bintan Tak Temukan Obat Hewan yang Dilarang

Pegawai DKPP Bintan melakukan inspeksi ke sejumlah toko yang menjual obat-obatan untuk hewan di wilayah Kecamatan Bintan Timur dan Kecamatan Toapaya pada Rabu (11/9) siang. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

PRO BINTAN – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bintan melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah toko yang menjual obat-obatan untuk hewan.

Sidak dilaksanakan di sejumlah toko yang menjual obat hewan di wilayah Kecamatan Bintan Timur dan Kecamatan Toapaya pada Rabu (11/9) siang.



Kepala DKPP Kabupaten Bintan Khairul melalui Kepala Seksi Kesehatan Hewan, drh. Iwan Berri Prima menyampaikan, sidak ini untuk meningkatkan pengawasan peredaran dan mutu obat hewan di tingkat toko atau depo obat hewan.

“Kali ini yang kita datangi toko-toko diĀ  Bintan Timur dan Toapaya,” ujarnya.

Dikatakannya, sejauh ini belum ada toko yang mengajukan izin khusus menjual obat hewan. Obat hewan biasanya dijual di toko obat-obatan pertanian atau toko tani.

“Ya walaupun belum ada toko yang mengajukan izin khusus penjualan obat hewan, meskipun demikian pengawasan peredaran obat hewan perlu dilakukan,” jelas dia.

Hal ini karena sesuai dengan Undang-undang nomor 18 tahun 2009 sebagaimana diubah menjadi UU nomor 41 th 2014 tentang peternakan dan kesehatan hewan khususnya pasal 68c huruf L bahwa otoritas veterinerĀ  menjamin mutu obat hewan yang beredar di masyarakat.

Selain itu, Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 1992 tentang obat hewan juga mengamanatkan bahwa pemakaian obat keras untuk hewan harus dilakukan oleh dokter hewan atau orang lain dengan petunjuk dari dan di bawah pengawasan dokter hewan.

“Obat keras, yaitu obat hewan yang bila pemakaiannya tidak sesuai dengan ketentuan dapat menimbulkan bahaya bagi hewan dan atau manusia yang mengonsumsi hasil hewan tersebut,” jelasnya.

Dia juga menyampaikan bahwa Permentan nomor 14 tahun 2017 tentang klasifikasi obat hewan pada pasal 15 juga menjabarkan bahwa pelarangan penggunaan obat hewan terhadap ternak yang produknya untuk konsumsi manusia.

Tujuannya dijelaskan dia, antara lain untuk mencegah terjadinya residu obat hewan pada ternak, untuk mencegah gangguan kesehatan manusia yang mengonsumsi produk ternak dan untuk mencegah penggunaan pengobatan alternatif bagi manusia serta untuk mencegah timbulnya resistensi mikroba patogen dan atau karena tidak ramah lingkungan.

Dari sidak itu, dia menyampaikan, tidak ditemukan peredaran obat hewan yang dilarang dan tidak ditemukan penjualan obat keras di toko pertanian.

Kendati tidak ditemukan pelanggaran, dia menyarankan agar penjual selalu menaati peraturan tentang obat obatan hewan.

“Kita akan secara rutin mengawasi peredaran obat hewan. Apalagi, Bintan kawasan pariwisata dan daerah penghasil ternak unggas dan menyuplai daging unggas ke Tanjungpinang dan Batam,” kata dia menambahkan bahwa ke depan pihaknya juga akan melakukan pengawasan di lokasi kandang ternak. (met)

Loading...