Peristiwa

26 Lokasi Tambang Pasir Ilegal di Bintan

Kerusakan Alam Semakin Meluas

Tampak aktivitas pertambangan pasir ilegal di salah satu lokasi di Kabupaten Bintan, Kamis (12/9). F.Cipi Ckandina / Batam Pos

PRO BINTAN – Aktivitas pertambangan pasir diduga ilegal semakin marak di Kabupaten Bintan. Penambangan secara besar-besaran itu diperkirakan sudah berlangsung lama.

Bekas tambang galian menyisakan kubangan besar menyerupai danau buatan. Ada di mana-mana, sangat membahayakan kelangsungan hidup warga sekitar.

Berada di Kecamatan Gunung Kijang menuju pantai Trikora di sepanjang jalan akan terlihat beberapa kubangan bekas galian tersebut.

Kondisi lebih mengkhawatirkan akan terlihat jika masuk ke dalam kawasan hutan tersebut. Melewati jalan tanah bergelombang, sekitar dua kilometer ke dalam akan terdengar suara mesin penyedot pasir, bersahutan dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Tampak aktivitas pertambangan pasir ilegal di salah satu lokasi di Kabupaten Bintan, Kamis (12/9). F.Cipi Ckandina / Batam Pos

Puluhan truk hilir mudik keluar masuk. Bergantian mengisi pasir yang disedot dari kubangan besar yang sudah digali menggunakan alat berat.

Jon (nama samaran) salah satu sopir truk menuturkan, sehari bisa dua kali mengisi pasir di lokasi tersebut. Butuh waktu sekitar 20 menit hingga terisi penuh.

“Ada puluhanlah (truk). Kalau lancar bisa dua kali sehari,” ungkapnya.

Diah, warga Kawal merasa khawatir dengan bekas galian yang ditinggalkan akan membahayakan anak-anak jika bermain dan berenang di sana.

Didik Santoso, Kasi Trantib Kecamatan Gunung Kijang. F.Cipi Ckandina / Batam Pos

“Takut anak-anak kami nanti jadi korban. Kami berharap galian itu segera ditimbun, supaya ke depan tidak ada korban jiwa,” harapnya.

Camat Gunung Kijang, Arief Sumarsono melalui Kasi Trantib,
Didik Santoso mendata ada sekitar 26 titik lokasi penambangan pasir ilegal yang berada di wilayah Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan.

Didik merinci, dari 26 lokasi tersebut tersebar di Kelurahan Kawal, Desa Teluk Bakau, Desa Malang Rapat, dan Desa Galang Batang.

“Itu (lokasi penambangan, red) yang kelihatan. Saya yakin masih banyak lokasi yang belum kami jangkau. Saya kira jumlahnya bisa lebih,” ungkapnya.

Tampak aktivitas pertambangan pasir ilegal di salah satu lokasi di Kabupaten Bintan, Kamis (12/9). F.Cipi Ckandina / Batam Pos

Dikatakan Didik, akibat dari penambangan secara ilegal ini, kerusakan alam semakin meluas. Untuk itu, pihaknya langsung mengirimkan surat kepada para penambang agar segera menghentikan kegiatannya.

Diakui Didik yang menjabat sejak Februari 2019 ini belum ada satu pun dari pengusaha pertambangan yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan izin lingkungan.

“Imbauan secara tertulis sudah kami layangkan. Agar tidak melanjutkan aktivitasnya sebelum ada izin,” jelasnya.

Surat tersebut kata Didik ditembuskan ke Kepala Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Kepala Satpol PP, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH), Lurah dan Kepala Desa di Kabuapten Bintan.(cca)