Metro Bintan

Anjal, Gelandangan dan Pengemis Datang Musiman ke Tanjunguban

5 PMKS di Kelurahan Tanjunguban Selatan

Kegiatan penyuluhan sosial digelar di Kelurahan Tanjunguban Selatan, Sabtu (14/9). F.Miswanto untuk Batam Pos.

PRO BINTAN – 5 dari 26 persoalan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) ada di Kelurahan Tanjunguban Selatan.

Hal ini diungkapkan oleh tenaga relawan penyuluh sosial  Kelurahan Tanjunguban Selatan,  Miswanto pada kegiatan penyuluh sosial (pensos) masyarakat dihelat Dinsos Kepri di Kantor Lurah Tanjunguban Selatan pada Sabtu (14/9).

Dia menyebut, setelah dilakukan komunikasi ke sebagian RW dan RT, lalu dijaring informasi dan memberikan motivasi dan edukasi, 5 dari 26 PMKS ditemukan di Kelurahan Tanjunguban Selatan.

5 PMKS tersebut, ialah anak berhadapan hukum (ABH), anak jalanan (anjal), gelandangan, pengemis dan fakir miskin.

Untuk anak jalanan, gelandangan dan pengemis, dia mengatakan, sifatnya transit atau datang secara musiman ke Kelurahan Tanjunguban Selatan.

Miswanto menjelaskan, maksud transit atau musiman di sini ialah tidak ada warga di Tanjunguban Selatan yang menjadi anak jalanan, gelandangan dan pengemis.

“Jadi mereka bukan dari warga kita, mereka sampai ke sini untuk mencari nafkah, jadi cuma musiman. Bukan warga Tanjunguban Selatan,” jelasnya.

Sedangkan fakir miskin, dia menyebut, ada di beberapa RT yang dominan tidak bisa dibantu karena persoalan lahan, dimana lahannya masih bersengketa.

Oleh sebab itu, sebagian warga di daerah ini tidak bisa mendapatkan bantuan rehab rumah dan pembangunan lainnya.

“Harapannya bantuan seperti rasta ditambah, karena bantuan rehab rumah di daerah ini tidak bisa digulirkan karena masalah sengketa lahan,” jelasnya.

Sedangkan untuk masalah anak berhadapan hukum, ia berharap ditegakkan kembali aturan jam malam bagi anak-anak dan dibuat kebijakan tentang jam operasi warung internet (warnet).

“Rata-rata dari analisa kita, setelah mereka berhadapan dengan hukum biasanya diawali karena bermain warnet. Sebagai contoh kasus, mereka mau main internet, karena tidak ada duit akhirnya mengambil uang di kotak infaq,” jelasnya.

Oleh karena itu, dia berharap ditegakkan kembali aturan jam malam dan dibuat pembatasan aturan tentang jam operasi warnet.

“Terkadang saya miris melihat anak-anak di bawah umur masih berkeliaran pukul 03.00 dan pukul 04.00 WIB,” jelasnya.

Untuk itu, dia mengajak semua pihak untuk peduli terhadap masalah PMKS. Karena persoalan ini tidak semata menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari pemerintah melainkan semua pihak.

Terakhir dia berucap syukur kegiatan ini berjalan dengan lancar. Tak lupa dia berterimakasih atas dukungan dari Dinas Sosial Kepri dan Bintan serta Kelurahan Tanjunguban selatan, perangkat RT/RW, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda serta ibu PKK.

“Terima kasih sudah menyisihkan waktu dan hadir di kesempatan ini sekaligus perkenalan tenaga penyuluh sosial Kelurahan Tanjunguban Selatan,” ucapnya.

Hadir pada kegiatan ini, Sekrtaris Dinsos Kepri Endang Suhara, Kabid Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin, Jenny Elvia. Aks, dan Kasi Pemberdayaan Bintan  Yohana serta Lurah Tanjunguban Selatan, Nona Yani. (met)