Metro Bintan

Bisnis Esek-esek di Dua Lokalisasi Bintan Tutup, Sekitar 60 Orang WTS Dipulangkan

Situasi lokalisasi Bukit Senyum, Tanjunguban pada Minggu (15/9) sehari sebelum ditutup secara resmi pada Senin (16/9). F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

PRO BINTAN – Bisnis esek-esek di dua lokalisasi tertua di Kabupaten Bintan akan resmi tutup mulai Senin (16/9).

Ialah lokalisasi Bukit Senyum (BS) Kilometer (Km) 79 di Desa Lancang Kuning Kecamatan Bintan Utara dan lokalisasi Bukit Indah Kilometer (Km) 24 di Kelurahan Toapaya Asri Kecamatan Toapaya.

Dari penutupan ini, sekitar 60 wanita tuna susila (WTS) di dua lokalisasi ini akan dipulangkan ke daerah asal. Termasuk 13 WTS diantaranya berasal dari kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau dikembalikan ke daerah asal.

Kepala Bidang Pelayanan Rehabilitasi Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Bintan, M Syafnur menyampaikan, pada 2018 jumlah WTS yang keluar masuk di dua lokalisasi itu terus berubah.

“Ada yang datang dan ada yang pergi,” kata dia.

Namun, Dinsos Bintan sudah menyosialisasikan bahwa Indonesia bebas lokalisasi 2019.

Pendataan dilakukan pada awal 2019, tercatat jumlah WTS di lokalisasi Bukit Senyum sekitar 91 orang. Sedangkan di lokalisasi Bukit Indah Km 24 sekitar 59 orang WTS.

“Saat itu jumlahnya nyaris 150 orang. Namun karena kita sudah menyampaikan bahwa pada 2019, lokalisasi akan tutup, sebagian besar sudah meninggalkan lokalisasi dengan sendirinya,” kata dia.

Juli 2019, Dinsos Bintan kembali melakukan pendataan. Dimana, jumlah WTS di lokalisasi Km 24 menjadi sekitar 38 orang, sedangkan di lokalisasi BS tersisa 43 orang.

Dari jumlah itu, WTS yang meminta dipulangkan dengan fasilitas pemerintah sekitar 60 orang WTS. Terdiri sekitar 21 orang WTS dari lokalisasi Km 24 dan sekitar 39 orang WTS dari lokalisasi BS.

“Sisanya memilih pulang sendiri, malah sudah ada yang sudah di daerah asalnya. Namun, kalau ada yang tidak pulang ke daerah asalnya, kita tidak bisa menghalangi ke mana tujuan mereka. Yang pasti mereka tidak boleh lagi berada di lokalisasi,” kata dia.

Situasi lokalisasi Bukit Senyum, Tanjunguban pada Minggu (15/9) sehari sebelum ditutup secara resmi pada Senin (16/9). F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

Setiap WTS yang dipulangkan ke daerah asalnya dengan fasilitas pemerintah akan mendapatkan bantuan usaha ekonomi produktif sekitar Rp 6 juta.

Terinci Rp 250 ribu untuk transportasi lokal dari provinsi asal WTS ke daerah asal WTS dan Rp 750 ribu untuk biaya hidup selama perjalanan dari provinsi asal WTS ke daerah asal. Sedangkan Rp 5 juta untuk modal usaha di daerah asal.

“Biaya transportasi mereka dari lokalisasi di Bintan ke provinsi asal mereka sudah dianggarkan melalui anggaran Dinsos Bintan,” katanya.

Bagaimana jika setelah penutupan ini, ada WTS yang kembali ke lokalisasi? Ia menegaskan, akan ada sanksi sesuai aturan berlaku bagi WTS yang melakukan praktik esek-esek di lokalisasi tersebut.

“Setelah penutupan nanti, kita akan memasang plang permanen di depan lokalisasi bahwa lokalisasi ditutup. Bahkan nanti lokalisasi juga dijaga oleh petugas Satpol PP,” katanya.

Demikian juga untuk pengusaha atau mucikari. Dia menegaskan pengusahanya juga tidak boleh lagi membuka praktik prostitusi di sana.

“Kalau buka karaoke tidak dilarang, namun harus ada izinnya. Silakan urus izinnya. Namun karaoke yang dibuka, tidak boleh ada praktik prostitusi. Konsepnya yang dibolehkan karaoke keluarga,” tegasnya.

Bagaimana dengan masyarakat di lokakisasi yang terkena dampaknya dari penutupan lokalisasi ini? Ia menjelaskan, sejumlah OPD terkait akan melaksanakan programnya misalkan Disnaker akan memberikan pelatihan las atau operator alat berat, Dinas Koperasi UKM misalkan akan melakukan kursus menjahit atau membuat kreasi kue.

“Yang setahu saya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian sudah mendata untuk membentuk kelompok usaha pertanian,” kata dia.

Sementara itu, Lurah Toapaya Asri Nepy Purwanto meminta dinas terkait segera mencarikan solusi pascapenutupan lokalisasi di Kabupaten Bintan yang berdampak pada masyarakat yang tinggal di lokalisasi tersebut.

“Saya berharap wacana yang sudah direncanakan di OPD agar segera direalisasikan, karena pascapenutupan lokalisasi akan berdampak pada ekonomi masyarakat yang tinggal di sana,” kata dia. (met)