Metro Bintan

Diibaratkan Kuburan, Bukit Senyum Jadi Kampung Sepi dan Gelap

Tiga Hari Pascapenutupan Lokalisasi

Salah satu kafe yang tutup pascapenutupan lokalisasi di Bukit Senyum Tanjunguban Kilometer 79 Desa Lancang Kuning, Kecamatan Bintan Utara, Rabu (18/9) siang. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

PRO BINTAN – Tiga hari pascapenutupan aktivitas prostitusi di lokalisasi di Bintan, suasana di lokalisasi Bukit Senyum (BS), Tanjunguban Kilometer 79 Desa Lancang Kuning, Kecamatan Bintan Utara diibaratkan kuburan.

“Sepi ibaratnya sudah macam kuburan,” ujar Ketua RT setempat Sarman ketika ditemui di lokalisasi BS, Rabu (18/9) siang.

Pemulangan puluhan pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi pada Senin (16/9) lalu, membuat lokalisasi itu benar-benar berubah.

“Kalau malam sepi. Tidak ada lagi suara musik sampai pagi dan tidak ada lagi lampu kerlap kerlip,” kata dia.

Biasanya, PSK yang tinggal di lokalisasi bangun siang hari.

“Ya kalau malam macam siang, siang macam malam la bagi mereka,” kata dia.

Kemudian mereka belanja makan dan minum serta kebutuhan sehari-hari di warung warga.

“Kalau sekarang yang belanja makan sedikit. Kemarin aja, sehari pemasukan kita cuma Rp 50 ribu. Kalau masih ada aktivitas di kafe, lumayan karena ada pemasukan juga dari tamu,” kata dia.

Kendati prostitusi sudah resmi tutup di lokalisasi di Kabupaten Bintan, namun ada beberapa kafe di lokalisasi BS yang masih buka untuk sekedar menyalakan musik.

“Ya setidaknya sampai sekitar pukul 21.00  malam. Setelah itu mereka matikan musik,” kata dia.

Dikatakannya, sebelumnya kafe yang aktif di lokalisasi itu sekitar 17 kafe. Dimana, 2 atau 3 kafe ada yang dimiliki 1 orang pengusaha kafe.

Hanya pengusaha kafe yang benar-benar warga lokalisasi dan bertempat tinggal di lokalisasi hanya 3 sampai 4 orang pengusaha. Selebihnya merupakan warga luar lokalisasi.

“Kalau yang KTP nya di luar lokalisasi, mereka pada pulang sementara ke rumahnya. Seperti kafe di sebelah rumah saya ini, orang Sungai Kecil,” kata dia.

Kemudian apakah sudah ada pengusaha yang mengajukan kafenya menjadi karaoke keluarga? Dia menjawab belum ada.

“Mungkin mereka masih cooling down dulu. Beberapa pekan la baru nanti dibicarakan karena kan perlu izin juga. Karena kita juga ada rencana menganti nama kampung ini dari BS menjadi nama lainnnya,” kata dia.

Ditanya program-program dari pemerintah yang sudah direalisasikan ke warga pascapenutupan lokalisasi ini, dia mengatakan belum ada. Sejauh ini yang baru masuk ialah dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bintan.

Dia berharap program pemerintah bisa segera direalisasikan pascapenutupan lokalisasi sehingga mampu mengangkat kembali ekonomi di lokalisasi.

Seorang warga di lokalisasi BS, Aya, mengatakan, sejak penutupan lokalisasi membuat suasana di lokalisasi jadi sepi dan gelap.

“BS jadi kampung sunyi dan gelap bang. Pemerintah harus cepat mencarikan solusi bagi warga setempat,” kata dia.

Alex, warga lokalisasi Bukit Indah juga mengatakan saat ini semenjak pemulangan PSK, suasana di lokalisasi sepi.

“Sepi tidak ada lagi suara musik dari karaoke di sini,” katanya.

Bupati Bintan, Apri Sujadi sebelumnya meminta OPD untuk segera meluncurkan program-programnya yang bisa meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat di lokalisasi.

“Saya juga meminta masyatakat segeralah berkoordinasi dengan RT dan RW serta Kades dan Lurah. Untuk OPD jangan ditunda lagi. Dan tak hanya dari OPD, saya berharap pihak swasta juga dapat membantu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sini,” harapnya. (met)