Metro Bintan

Ekowisata Mangrove di Bintan Bernilai Jual Tinggi

Puluhan Pengelola Wisata Ikuti Workshop

I Wayan Santika menjadi narasumber dalam workshop tata kelola destinasi pariwisata mangrove di Lohas Wellness Village, Kecamatan Toapaya, Bintan. F.Dispar Bintan untuk Batam Pos.

PRO BINTAN – Puluhan perwakilan pengelola wisata di Bintan mengikuti workshop tata kelola destinasi pariwisata mangrove dihelat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bintan.

Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari mulai Selasa (24/9) di Lohas Wellness Village, Kecamatan Toapaya, Bintan.

Seorang narasumber, I Wayan Santika memaparkan potensi ekowisata mangrove pada workshop hari kedua, Rabu (25/9).

Pria kelahiran Bali, yang juga pendiri Desa Wisata Ekang Anculai mengatakan, sudah seharusnya ekowisata mangrove dikelola masyarakat setempat dalam bentuk lembaga swadaya masyarakat.

Tujuan supaya wadah yang dibentuk dapat mentransfer ilmu dengan mengedukasi sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat akan peran penting mereka dalam menjaga ekosistem yang ada di lingkungannya.

“Ekowisata mangrove di Bintan mempunyai peran penting bagi sistem manajemen dan marketing wisata,” ujarnya.

Oleh karena itu, masih menurut dia, perlunya peran serta masyarakat dan pemerintah selaku pemangku kebijakan baik pemerintah daerah dan pemerintah desa untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan kepariwisataan di kawasan hutan mangrove di Kabupaten Bintan.

Hutan mangrove yang ada di Bintan, masih menurut dia, biasa ditemui di daerah teluk dan muara sungai.

Keistimewaan hutan mangrove di Bintan, menurut dia, bukan sekedar hutan yang rimbun namun memiliki satwa di dalamnya seperti monyet, ular, tupai, dan masih banyak satwa lainnya.

Selain itu, Bintan juga memiliki keunikan biota lautnya seperti kerang, kepiting, gonggong, dan udang.

“Ini menjadi salah satu paket lengkap ekowisata mangrove dan menjadi nilai jual tinggi yang sangat penting dalam tata kelola pariwisata mangrove,” kata dia.

Dia berharap, dengan adanya workshop ini, semoga dapat dibentuknya lembaga swadaya masyarakat yang fokus berkonsentasi terhadap ekowisata mangrove.

Sehingga dapat menciptakan cara pandang yang baru bagi masyarakat terhadap keberadaan hutan mangrove dan satwa di dalamnya.

“Agar ekowisata mangrove di Bintan terus berkelanjutan dan berkembang tanpa merusak lingkungan dan keaslian ekowisata tersebut,” tutupnya. (met)