Peristiwa

Dinkes Bintan Tarik Peredaran Ranitidine

Seorang warga menunjukkan obat radin FC tablet 150 mg yang akan ditarik dari peredarannya selain raniditine di salah satu apotik di Toapaya, Jumat (11/10) siang. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

PRO BINTAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten BintanĀ  menarik peredaran obat ranitidine.

Hal ini menyusul surat edaran dari PT Dexa Medica tanggal 10 Oktober 2019 yang menarik kembali produk ranitidine dan radin FC tablet 150 mg disebabkan obat ranitidine berpotensi tercemar nitrosodimethylamine (NDMA) selain untuk melindungi konsumen.

Adapun obat yang akan ditarik yakni diantaranya Ranitidine HCI tablet Salut Selaput 100 mg PT Dexa Medica, Ranitidine HCI tablet Salut Selaput 150 mg PT Hexpharm Jaya, Ranitidine Injeksi 25 mg PT Dexa Medica dan Ranitidine HCI 25 mg PT Hexpharm Jaya.

Surat Dinkes ini ditujukan ke Direktur RSUD Kabupaten Bintan, Kepala UPTD Puskesmas Se-Kabupaten Bintan, Kepala UPTD BPFAK Kabupaten Bintan dan Apoteker Pengelola Apoteker Se-Kabupaten Bintan.

Dalam surat itu, Kadiskes Kabupaten Bintan, dr Gama AF IsnaeniĀ  memerintahkan jajarannya untuk melakukan pemeriksaan stok obat ranitidine dan melakukan pengamanan dengan menyimpan secara terpisah bila ditemukan obat ranitidine.

Bila ditemukan obat ranitidine, pihak rumah sakit, puskesmas dan lainnya diminta menghubungi distributor dalam hal ini PT Anugrah Agron Medical untuk pengembalian obat dalam waktu 30 hari kerja sesuai surat edaran PT Dexa Medica.

“Kita minta disimpan sampai distributor yang tarik. Tidak lagi boleh mengedarkan atau menjual obat tersebut sampai informasi lebih lanjut dari BPOM,” kata ia.

Dia mengatakan, saat ini raniditine yang ditarik merupakan keluaran PT Dexa Medica. Dia berharap distributor lainnya juga melakukan uji lab sehingga bila ditemukan hal yang tidak diinginkan sebaiknya juga menarik produk obatnya.

Ia juga mengatakan, pihaknya akan meningkatkan pengawasan untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat dan makanan yang tidak memenuhi persyaratan.

Terakhir katanya, bagi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi tentang terapi pengobatan yang menggunakan ranitidine, sarannya sebaiknya menghubungi dokter atau apoteker dan pelayanan kesehatan terdekat.

Humas RSUD Kabupaten Bintan, drg Toni menyampaikan, informasi penarikan obat ranitidine dari Dinkes per tanggal 11 Oktober 2019 telah diterimanya.

“Itu memang belum terbukti (tercemar NDMA), namun untuk menjaga dan kebaikan bersama, makanya dilakukan penarikan,” kata ia.

Dia mengakui, obat ranitidine berupa tablet dan injeksi tersedia di rumah sakit. Jumlahnya ratusan kotak.

“Kita masih menunggu dari dinas, kapan ditariknya. Cuma mulai hari ini obat ranitidine tidak digunakan lagi,” kata ia. (met)