Kabar Pemkab

17.300 Tablet dan 3.975 Ampul Obat Ranitidin Ditarik dari RSUD Bintan

Bupati Bintan Apri Sujadi saat berkunjung ke RSUD Bintan di Kijang, belum lama ini. F.Diskominfo Bintan untuk Batam Pos.

PRO BINTAN – Usai keluarnya surat dari Dinas Kesehatan (Dikes) Bintan perihal penarikan obat Ranitidine dari peredarannya, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Bintan telah melakukan penertiban dan penarikan semua jenis obat yang mengandung ranitidin sejak Jumat (11/10) lalu.

Penertiban ini juga menindaklanjuti instruksi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), lantaran ranitidin dianggap berpotensi memicu kanker.

Dirut RSUD Bintan, dr Benni Antomi menjelaskan, pihaknya telah menarik seluruh obat Ranitidine yang ada di RSUD Bintan.

“Ada sebanyak 17.300 tablet dan 3.975 ampul sudah ditarik dan tidak dipergunakan lagi untuk pengobatan medis,” kata ia, dihubungi Minggu (13/10).

Ia mengatakan, yang ditarik adalah obat jenis Ranitidine Tablet 150 mg dan Ranitidine Injeksi 25 mg/ml yang merupakan produk PT Dexa Medika dan PT Hexparm Jaya.

Dikatakannya juga bahwa informasi awal, produk kedua pabrik ini tidak termasuk, namun hasil BPOM per tanggal 11 Oktober 2019, ternyata produk kedua perusahaan tersebut termasuk.

“Untuk itu segera kita tindaklanjuti,” ujarnya menjelaskan.

Dijelaskannya juga bahwa dengan penarikan tersebut dipastikan tidak berdampak pada pemenuhan kebutuhan obat pasien, karena menurutnya masih banyak alternative obat lain untuk lambung selain Ranitidine.

“Pada dasarnya penggunaan Ranitidine adalah obat yang menurunkan produksi asam lambung. Jadi ini tidak akan mengganggu pemenuhan kebutuhan obat pasien,” tutupnya.

Sebelumnya Dinkes Bintan telah mengeluarkan surat perihal penarikan Ranitidine yang ditujukan ke RSUD Bintan, UPTD Puskesmas Se-Kabupaten Bintan, dan lainnya. Hal ini setelah keluarnya surat dari PT Dexa Medica yang akan menarik produk obat tersebut. (met)