Nasional

OJK: Inklusi Keuangan Lampaui Target

ilustrasi

PRO BINTAN – Inklusi keuangan diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di tanah air. Hal itu sejalan dengan studi dari World Bank yang menyebut bahwa peningkatan iklusi keuangan sebesar 1 persen dapat mendorong pertumbuhan PDB per kapita sekitar 0,03 persen.

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tirta Segara menyebut, tahun ini target Indonesia dalam literasi dan inklusi keuangan telah melebihi target.

“Target inklusi keuangan sebesar 75 persen tahun ini telah terlampaui. Selain itu, target literasi keuangan sebesar 35 persen pun juga telah terlampaui,” ujarnya.

Meski belum mau menyebut berapa realisasi angka tersebut, namun capaian itu lebih cepat dari target awal pencapaian tingkat inklusi dan literasi keuangan pada akhir tahun ini. Hal itu juga sejalan dengan adanya Perpres Strategi Nasional Perlindungan Konsumen No. 50 Tahun 2017 untuk membantu mendongkrak tingkat keuangan inklusi di Indonesia.

Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko mengatakan, peningkatan inklusi keuangan nasional di masyarakat diyakini bisa  memperkuat daya tahan sistem keuangan dari terjadinya krisis.

Onny menjelaskan, hal itu dikarenakan inklusi keuangan tentu membuat adanya peningkatan jumlah rekening masyarakat. Sehingga, hal itu juga dapat menopang biaya pembangunan di Indonesia.

“Inklusi keuangan kalau sukses bisa meningkatkan jumlah tabungan masyarakat sehingga pembangunan kita tidak tergantung ongkos dari luar,” katanya.

BI, lanjutnya, juga terus menggenjot penetrasi sistem Quick Response Indonesia Standard (QRIS). Hal itu seiring dengan resmi diberlakukannya QRIS pada 1 Januari 2020.

“Harapannya nanti berbelanja di pasar tradisional tidak lagi menggunakan cash, dan pemberian bansos juga mulai menggunakan noncash dan tidak perlu takut risiko uang hilang,” tuturnya.

Seperti diketahui, melalui sistem QRIS, maka satu kode QR dapat digunakan untuk semua aplikasi dompet digital seperti OVO, Gopay, Dana, LinkAja dan lain sebagainya. Artinya, merchant cukup memasang satu macam QR Code saja. QR Code itu dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi konsumen yang dapat menerima pembayaran menggunakan QRIS.

Standarisasi penggunaan QR Code itu bertujuan untuk mempermudah transaksi pembayaran digital dalam satu pintu. Selain itu, juga untuk mengantisipasi adanya monopoli dari perusahaan jasa sistem pembayaran. (dee)