Nasional

Hoaks Kesehatan, Tertinggi Setelah Politik

ilustrasi

PRO BINTAN-Isu kesehatan kerap jadi “gorengan” penyebaran hoaks. Entah soal makanan, penyakit tertentu, sampai pelayanan kesehatan. Tak heran jika hoaks kesehatan jadi salah satu yang tertinggi dalam setahun terakhir.

”Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika, sepanjang Agustus 2018-Februari 2019, hoaks terkait kesehatan menjadi salah satu hoaks tertinggi setelah hoaks politik,” ujar Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito.

Hal ini sejalan dengan jumlah penerbitan surat klarifikasi BPOM terkait hoaks obat dan makanan yang beredar di masyarakat selama 2017-2018. Setidaknya, ada 29 penjelasan yang dikeluarkan oleh BPOM guna meluruskan isu kesehatan meresahkan masyarakat.

Diakuinya, hoaks merupakan teror informasi yang sangat mengerikan. Apalagi soal obat dan makanan. Pemahaman yang keliru dapat menjadi landasan pengambilan keputusan yang salah dalam mengonsumsi obat dan makanan. ”Dan ini kerap kali berulang dari tahun ke tahun,” keluhnya.

Karena itu, lanjut dia, guna menangkal hoaks ini butuh kerja sama semua pihak untuk melakukan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat. Membuat masyarakat tahu bagaimana mencari informasi yang benar terkait obat dan makanan. Sehingga, tak mudah percaya dengan isu-isu yang beredar di media sosial.

Senin (21/10),  BPOM menggandeng Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) untuk memerangi hoaks di bidang obat dan makanan. Melalui kerja sama ini, BPOM dan MAFINDO sepakat untuk menyediakan jalur komunikasi yang akurat dan terpercaya serta menyebarkan secara masif informasi yang benar atas hoaks yang menyesatkan.

“Mari kita putus mata rantai hoaks. Demi kita, keluarga dan orang-orang di sekitar kita.” pungkasnya.

Ketua Presidium MAFINDO Septiaji Eko Nugroho mengatakan, hoaks di media sosial memang sudah sangat meresahkan. Setiap bulannya tercatat sebanyak 60-100 hoaks yang mengotori ruang publik dalam dunia digital. ”Pada tahun 2018, enam persennya terkait dengan kesehatan yakni soal obat dan makanan,” ungkapnya.

Dia pun mengamini jika isu soal kesehatan dan hoaks terkait obat dan makanan ini tidak boleh dianggap remeh. Karena seringkali hoaks membawa unsur ketakutan dan juga kecemasan. Soal vaksin misalnya. Banyak orang ketakutan hingga akhirnya muncul penolakan di masyarakat. ”Dampaknya, muncul penyakit,” keluhnya.

Oleh sebab itu, dia sepakat jika masalah hoaks ini harus diperangi bersama. Masyarakat pun harus lebih cerdas dalam menerima informasi. Wajib cross check sebelum percaya dan menyebarkannya lagi. (mia)