Politik

Anggap Jokowi Lupa, Kiai NU Prihatin Susunan Kabinet

Kabinet Indonesia Maju. (net)

PRO BINTAN – Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim dan juga Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo KH Agoes Ali Masyhuri sering menyampaikan tidak ada dukungan politis yang gratis. Karena dalam kamus politik, tidak ada lawan abadi, tidak ada teman abadi, yang ada adalah kepentingan abadi.

Dari potret orang-orang yang dipilih Jokowi menjadi menteri, ada sesuatu yang dirinya sangat sayangkan. “Jokowi lupa rupanya, tidak tahu siapa yang berkeringat, dan siapa yang memusuhi Jokowi,” katanya.

Kiai yang akrab disapa Gus Ali itu menyebut kiai-kiai NU merapatkan barisan untuk memenangkan Jokowi. Kiai banyak yang berjuang lahir batin untuk memenangkan Jokowi.  Dengan satu pertimbangan mendasar, karena waktu itu orang yang keras-keras berkumpul di kubu Prabowo.

“Jadi pertimbangan kiai itu khawatir kalau Prabowo menang, nasibnya NU yang akan dihabisi,” katanya.

Anehnya, menurutnya Jokowi lupa. Tidak tahu siapa yang berkeringat, siapa yang menonton dan siapa yang berseberangan. Jokowi juga lupa bahwa NU merupakan organisasi sosial keagamaan terbesar.

“Saya siang malam keliling Jatim untuk menangkan Jokowi, jujur saja tidak ada yang menggaji,” katanya. Karena panggilan sebagai orang NU. Karena menurutnya dari dua pilihan, Jokowi lah yang bisa dititipi aspirasi NU.

Eh ternyata, saat ini aspirasi NU tidak ditampung sama sekali. Menteri dari NU tidak ada. “Dari PKB ada, kan tidak mewakili NU itu,” katanya. Namun mewakili partai politik (parpol). Tentunya kalau mewakili parpol, dia akan lebih tunduk ke ketua partainya daripada ke NU.

“Yang membantu kok dibuang, yang memusuhi kok diangkat,” katanya. Sah-sah saja misalnya Prabowo ditampung sebagai menteri. “Tapi Jokowi harus mempertimbangkan siapa yang bekerja untuk memenangkan,” katanya.

Harapannya, NU dapat kursi yang pantas. “Karena tidak ada dukungan politik yang gratis,” katanya menegaskan.

Kalau perlu, Jokowi mengundang dan mengajak diskusi yang enak. “Meskipun itu hak prerogatif presiden tapi presiden harus menimbang, NU itu terbesar di seluruh dunia, tolong aspirasinya dihargai lah,” katanya.

Gus Ali menyebut dari PBNU sebenarnya sudah mengajukan calon untuk menteri. Namun ternyata juga tidak digubris.  Selain itu yang memprihatinkan menurutnya adalah adanya framing. Seakan-akan Ma’ruf Amin mewakili NU ketimbang dengan lima menteri.

“Beda to, Ma’ruf Amin tidak mewakili NU yang 92 juta jiwa. Mana kalkulasinya, hukum dasarnya tidak ada,” tegasnya.

Karena itu dirinya meminta agar kiai NU, terutama PBNU harus mandiri. Tidak menggantungkan ke orang lain. Harus punya kekuatan.  Baik ekonomi dan lainnya. Dan jangan mau dijadikan tameng.

”Pancasila, NKRI digoyang, orang NU yang ditaruh depan, ketika bagi-bagi berkat, NU enggak kebagian,” katanya.

“Karena Rasul bersabda, barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti tidak bersyukur kepada Allah. Yang paling berkeringat itu NU Pak Jokowi, aspirasinya ditampung lah,” katanya.  (uzi)