Nasional

NU Protes Jabatan Menteri Agama

ilustrasi

PRO BINTAN – Terpilihnya Fachrul Razi sebagai Menteri Agama memicu protes dari kalangan Nahdliyin. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Robikin Emhas mengakui, sejak dimumkannya susunan kabinet, ada protes dari sejumlah kiai dan tokoh-tokoh NU dari seluruh pelosok Indonesia tentang pengangkatan Fachrul Razi sebagai Menteri Agama.

“Dari kalangan tanfidziyah maupun syuriah. Bahkan para kiai-kiai sepuh juga,” kata Robikin.

Kekecewaan saat ini tengah ditampung oleh PBNU sebagai bahan pertimbangan untuk langkah selanjutnya. Yang jelas, kata Robikin, PBNU ingin berusaha mengelola aspirasi para kiai dari berbagai daerah agar tersalurkan dengan baik. Kekecewaan yang utama kata Robikin adalah karena Kementerian Agama (Kemenag) selama ini dianggap sebagai garda terdepan dalam mengatasi radikalisme berbasis agama.

”Namun para kiai tak habis mengerti terhadap pilihan yang ada (Jokowi,Red),” sebut Robikin.

Robikin menambahkan, para kiai sudah lama merisaukan fenomena terjadinya pendangkalan pemahaman agama yang ditandai dengan merebaknya sikap intoleran. Lebih tragis lagi, bahkan sikap ekstrem dengan mengatasnamakan agama. Semua di luar kelompoknya kafir dan halal darahnya.

”Teror adalah diantara ujung pemahaman keagamaan yang keliru seperti ini,” pungkasnya.

Sementara Fachrul Razi mengaku tidak mengetahui alasan dirinya dipilih sebagai Menteri Agama. Fachrul lantas menerka-nerka alasan Jokowi memilih dirinya sebagai Menteri Agama.

“Tebakan saya, (alasan Jokowi, Red) Pak Fachrul ini suka mendalami agama meskipun bukan kiai,” tuturnya.

Apalagi, dirinya aktif aktif melakukan khutbah dan ceramah. Kemudian dalam ceramahnya dia mengaku selalu berbicara soal Islam yang damai, menjaga toleransi, dan keutuhan serta persatuan bangsa.

Soal tugas yang diminta Jokowi, pensiunan TNI itu menyebut akan merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang keagamaan.

“Dan agama itu banyak. Saya bukan Menteri Agama Islam. Tetapi Menteri Agama RI,” katanya.

Dia lantas menjelaskan tantangan keagamaan ke depan. Di antaranya adalah soal adanya kesalahan dalam menafsirkan agama. Fachrul mengatakan ajaran agama itu luar biasa baik. Contohnya agama Islam yang mengajak perdamaian. Jika ada implementasi keagamaan yang membawa mudharat, berarti telah terjadi salah penafsiran.

Menurut dia salah menafsirkan agama ini merupakan salah satu tantangan keagamaan.

Sementara itu ketua MPR Bambang Soesatyo mengomentari susunan kabinet yang dilantik Jokowi. Bagi dia, komposisinya cukup baik. “Kalau melihat komposisinya, saya sebutnya dream team,” kata politisi Partai Golkar itu usai mengikuti pelantikan.

Menurut Bamsoet, nama karibnya, susunan kabinet ada yang mewakili generasi muda. Kemudian juga ada dari unsur orang berpengalaman. Dia berharap seluruh menteri dan pejabat yang dilantik bisa bekerja dengan baik. Menjalankan semangat kerja keras. Serta mendukung Presiden Jokowi menyelesaikan tugas-tugasnya di periode keduanya. (far/wan/tau)