Nasional

Pangkas Lagi Bunga Acuan, Demi Pacu Pertumbuhan

ilustrasi

PRO BINTAN – Untuk melonggarkan moneter, Bank Indonesia kembali memangkas suku bunga acuan 25 basis poin (bps) dari 5,25 persen menjadi 5 persen. Pemangkasan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) itu tercatat menjadi kali keempat tahun ini. Bunga acuan tersebut dipangkas bank sentral secara terus-menerus dari Juli hingga Oktober. Dengan kondisi itu, suku bunga deposit facility dan lending facility turun 25 bps menjadi 4,25 persen dan 5,75 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, bunga acuan tersebut dipangkas secara konsisten sesuai dengan perkiraan inflasi yang terkendali dan imbal hasil investasi keuangan domestik yang tetap menarik. “Serta sebagai langkah preemtif lanjutan untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat,” ujarnya.

Kebijakan itu juga didukung strategi operasi moneter yang terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif. Selain itu, kebijakan makroprudensial yang diambil tetap akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian.

Namun, sayang, penurunan suku bunga acuan tersebut belum sepenuhnya diikuti suku bunga deposito maupun kredit. Menurut Perry, suku bunga deposito baru turun 26 bps atau 0,26 persen. Artinya, suku bunga deposito masih bisa turun lagi karena bank butuh waktu untuk melakukan penyesuaian. Suku bunga kredit penurunannya malah lebih kecil lagi, yakni 8 bps atau 0,08 persen.

Menurut dia, penyesuaian penurunan suku bunga kredit memang memerlukan waktu yang lebih lama daripada suku bunga deposito. Dia memperkirakan, banyak faktor yang mengakibatkan pertumbuhan kredit tak signifikan pada kuartal III tahun ini. Salah satunya, masih adanya kecenderungan investor wait and see seiring dengan momentum pascapemilu.

Dia menyebutkan, optimisme konsumen dan pelaku usaha akan membaik dalam enam bulan ke depan hingga Februari 2020. “SKDU (survei kegiatan dunia usaha) menunjukkan, ekspektasi kegiatan ekonomi kuartal IV akan membaik,” urainya.

Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana mengungkapkan, langkah BI dalam memangkas kembali suku bunga acuannya merupakan upaya mendukung pertumbuhan ekonomi. Selain itu, dia menilai, bank sentral tampaknya lebih optimistis dengan prospek investasi non hunian di tengah rencana belanja modal oleh perusahaan besar.

Namun, lanjut Wisnu, ruang untuk pelonggaran moneter lebih lanjut tampaknya agak terbatas. Karena itu, bank sentral ingin mempercepat kebijakan-kebijakan akomodatifnya. “Kecuali, bank sentral global semakin dalam kebijakan pelonggaran mereka,” lanjutnya kemarin.

Dalam hal transmisi moneter ke industri perbankan, dibutuhkan waktu jeda yang mungkin lebih lama. “Karena bank memperhatikan kualitas aset lebih dulu sebelum menyesuaikan tarif untuk mencari pertumbuhan,” imbuhnya. (dee/ken/c22/oki)