Internasional

Penuhi Kesepakatan, SDF Mundur

Angkatan bersenjata Turki hendak menggempur Kurdi di Syiria. (net)

PRO BINTAN – Pasukan Kurdi mulai mundur. Mereka meninggalkan posisi di perbatasan Syria-Turki. Hal itu sesuai dengan kesepakatan yang dicapai pemerintah Turki, Rusia, dan Syria Selasa (22/10) di Sochi, Rusia.

Dengan kesepakatan tersebut, militer Kurdi yang tergabung dalam Syrian Democratic Forces (SDF) harus menjauh setidaknya 30 kilometer dari perbatasan. Batas waktunya Selasa (29/10).

”Saya tidak percaya Sari Kani (Ras Al Ain, Red) telah jatuh,” ujar Samira, warga Kurdi penduduk Tal Tamr, seperti dikutip Agence France-Presse. Dia menunggu pasukan SDF lewat dan mengibarkan benderanya. Penduduk sekitar ingin memberikan penghormatan terakhir kepada para pejuang Kurdi yang mempertahankan wilayahnya.

Kepala Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) Rami Abdel Rahman mengungkapkan, SDF telah mundur dari posisinya di antara Derbasiyeh dan Amuda, Hasakeh. Militer Rusia kini berpatroli di perbatasan. Mereka mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pasukan AS sekaligus mengawasi penarikan pasukan SDF.

Belum semua pasukan Kurdi mundur. Unit Perlindungan Rakyat (YPG) yang merupakan bagian terbesar pasukan SDF masih berada di beberapa titik di sepanjang 440 kilometer perbatasan yang membentang antara Turki-Syria. Pertempuran antara SDF dan mantan pemberontak Syria yang pro-Turki juga masih terjadi di Tal Tamr. Namun, secara keseluruhan terjadi penurunan skala pertempuran.

Kesepakatan dengan Rusia dan Syria itu berbuah manis bagi Turki. Keinginan Turki untuk mendapatkan zona aman di perbatasan dua negara tercapai. Pemerintah AS juga mencabut sanksi yang sebelumnya dijatuhkan kepada negeri yang terletak di dua benua tersebut. AS menilai bahwa gencatan senjata di Syria sudah permanen sehingga hukuman bagi Turki bisa dicabut.

”Sanksinya akan dicabut, kecuali ada hal yang membuat kami tak senang,” ujar Presiden AS Donald Trump.

Sementara itu, situasi di Syria mulai normal. Kemarin Museum Nasional yang terletak di Aleppo kembali dibuka. Museum arkeologi itu tutup sejak 2013 karena perang. Pemerintah Jepang dan Program Pembangunan PBB (UNDP) ikut mendanai proses restorasi. Museum tersebut selama ini didapuk sebagai salah satu yang memiliki koleksi arkeologi terlengkap, utamanya pada periode Aram dari Tel Halaf dan Tel Ahmar. (sha/c11/dos)