Peristiwa

Polres Ungkap Mafia Tanah, Petani Palsukan Seratusan Surat Tanah

Kasat Reskrim Polres Bintan, AKP Agus Hasanudin saat ekspos kasus pemalsuan surat di markas Polres Bintan, Jumat (25/10). F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

PRO BINTAN – Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bintan mengungkap mafia tanah.

Pria bernama Edi Subagio, 43, warga Toapaya, Bintan diamankan. Dari tangannya, disita seratusan surat pernyataan penguasaan phisik bidang tanah palsu yang sebagian besar surat yang dipalsukan masuk tanah milik PT Buana Megawisatama (BMW).

Selain seratusan surat tanah, polisi juga menyita laptop, printer dan stampel yang digunakan untuk memalsukan surat tanah.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bintan, AKP Agus Hasanudin mengatakan, modus pelaku memalsukan surat keterangan tanah dengan memalsukan tanda tangan pejabat RT, RW hingga camat di Toapaya.

“Tanda tangan pejabat dipalsukan,” kata ia.

Tidak hanya itu, pelaku juga membuat surat keterangan tanah palsu dengan memalsukan stempel dan membuat register surat tanah sendiri.

“Dia membuat stempel dan memberikan register surat tanah sendiri,” kata ia.

Kasus ini terungkap setelah ada warga bernama Edi Jon Piter, yang mencurigai surat tanah miliknya yang didapat dari pelaku ialah surat palsu.

“Awalnya kita hubungi pelaku untuk klarifikasi namun pelaku mengatakan sedang di luar kota. Namun setelah kita selidiki, ternyata pelaku berada di Bintan,” kata ia.

Hingga akhirnya, pelaku datang sendiri ke markas Polres Bintan.

“Pelaku datang sendiri, akhirnya kita periksa dan kita ke rumahnya dan menemukan ratusan surat tanah palsu dan perangkat elektronik yang membantu untuk membuat surat palsu,” kata ia.

Sampai saat ini, ia mengatakan, sebanyak 114 surat yang dipalsukan. Dimana, sebagian sudah dijual ke masyarakat.

Ia berharap masyarakat yang menjadi korbannya atau pernah membeli tanah dari pelaku agar melaporkan ke pihak kepolisian.

Atas perbuatannya pelaku dijerat pasal 263 ayat 2 pasal 264 ayat 1 tentang KUHP tentang pemalsuan surat dengan ancaman 7 tahun kurungan penjara.

Sementara Edi Subagio mengatakan, sudah banyak surat yang dijual. Dimana, 1 surat dengan luas rata-rata 1 sampai 2 hektare telah dijual ke masyarakat dengan harga Rp 10 juta.

“Jasa penjualan sekitar Rp 2 sampai Rp 6 juta,” kata ia.

Keuntungan yang didapat selama ini sekitar Rp 73 juta.

“Uangnya untuk operasional saja,” kata lelaki yang bekerja sebagai petani ini.

Dia mengaku menyesal telah melakukan perbuatannya.

“Ya menyesal, menyesal sekali,” tutup ia. (met)