Peristiwa

Ganja Aceh Seberat 2,9 Kilogram Dibakar

Wakapolres Bintan, Kompol Dandung PW saat melempar ganja ke tong bekas yang telah disulut api saat pemusnahan barang bukti ganja milik tersangka Rudy Hartanto di markas Kepolisian Resor Bintan, Selasa (29/10) siang. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

PRO BINTAN – Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bintan memusnahkan barang bukti hasil tangkapan tersangka bernama Rudy Hartanto berupa ganja seberat 2,9 kilogram.

Barang bukti ganja dari Banda Aceh tersebut dimusnahkan dengan cara dibakar di dalam tong bekas.

Pemusnahan dilakukan oleh Wakapolres Bintan Kompol Dandung PW di markas Kepolisian Resor Bintan di Bintan Buyu, Selasa (29/10) siang.

Hadir dalam pemusnahan, Kasipidum Kejaksaan Negeri Bintan Jaksa Muda Haryo Nugroho dan Kasatresnarkoba Polres Bintan AKP Nendra Madya Tias serta Penasehat Hukum dari tersangka Rudy Hartanto, Anur Saefudin Rafiq.

Dalam pemusnahan itu, tangan Wakapolres Bintan Kompol Dandung PW yang mengenakan sarung tangan sempat disambar api. Bahkan api sempat membesar dan menimbulkan asap yang pekat.

Wakapolres Bintan, Kompol Dandung PW mengatakan, barang bukti ganja diamankan dari tersangka bernama Rudy Hartanto pada Selasa (8/10) di jalan raya Kampung Wacopek, Kelurahan Gunung Lengkuas, Kecamatan Bintan Timur.

Dari tangan tersangka, pihaknya mengamankan barang bukti seberat lebih kurang 3,182 kilogram dengan berat bersih sekitar 3,068 kilogram.

Dari barang bukti tersebut, barang bukti yang dimusnahkan dengan cara dibakar sekitar 2,972 kilogram.

Dia mengatakan, sebenarnya barang bukti yang dibawa tersangka dari Aceh berjumlah sekitar 10 kilogram.

Barang bukti tersebut dijemputnya sendiri ke Aceh melalui Bandara Hang Nadim, Batam kemudian tersangka kembali dengan naik kapal Kelud ke Bintan.

Dari 10 kilogram ganja itu, 7 kilogram telah dijual ke kurir ganja baik di Batam, Tanjungpinang dan Bintan.

“Setiap 1 kilo tersangka mendapatkan upah sekitar Rp 1 juta dan 1 kilo ganja dijual seharga Rp 4,5 juta,” kata ia.

Dikatakannya juga bahwa tersangka merupakan residivis kasus yang sama dan telah menjalani hukuman badan. Kemudian tersangka bebas pada tahun 2010.

Atas perbuatan melanggar hukum, tersangka dijerat Pasal 111 ayat 2 dan 114 ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman penjara seumur hidup. (met)