Nasional

Kelompok Teroris Perancang Aksi saat Pemilu Terungkap

PRO BINTAN – Densus 88 Anti Teror kembali melakukan penangkapan berantai terhadap enam terduga teroris. Keenam terduga teroris ditangkap di tiga wilayah berbeda, yakni Bekasi, Bogor, dan Depok. Mereka terhubung dengan pemimpin kelompok Daurut Daulah Endang alias Abu Rafi alias Pak Jenggot. Kelompok ini sempat merencanakan aksi saat pemilihan presiden (pilpres).

ilustrasi

Kabagpenum Divhumas Polri Kombespol Asep Adi Saputra menjelaskan, keenamnya yakni, JF, R, HC, BS, AR, SG. Mereka ditangkap secara berantai pada Sabtu lalu (26/10). JF, R dan HC ditangkap di Bekasi, BS dan AR ditangkap di Depok, serta SG dibekuk Bogor. ”Semua satu kelompok,” ujarnya.

Keenamnya merupakan anggota kelompok Daurut Daulah. Yang diketahui telah berbaiat kepada ISIS dan telah merancang serangan teror. ”Mereka dipimpin Abu Rafi alias Pak Jenggot yang ditangkap Mei lalu,” paparnya.

Aksi teror yang direncanakan kelompok ini merupakan upaya gangguan saat proses demokrasi, seperti pilkada dan pilpres. Rencana tersebut mampu digagalkan dengan penangkapan terhadap sejumlah anggotanya. ”Ini anggota yang terakhir, walau begitu masih dilakukan pendalaman,” terangnya.

Menurutnya, Densus 88 Anti Teror akan terus mengendus anggota kelompok teroris lainnya. Dengan begitu diharapkan tidak ada aksi teror yang terjadi. ”Ya, begitu targetnya,” paparnya.

Sementara Pengamat Terorisme Al Chaidar menjelaskan, kelompok teroris masih terus bermunculan akibat minusnya langkah counter discourse atau kontra wacana. Sehingga, setiap doktrin atau keyakinan dari kelompok teroris ini masih terus berkembang. ”Wacana kelompok teror masih bisa memperdaya orang karena tidak dilawan,” ujarnya.

Selama wacana kelompok teror itu tidak dilawan, maka potensi tumbuhnya kelompok teroris masih ada. Hal itu pula yang mendasari potensi aksi teror akan tetap bermunculan. ”Begitulah urgennya kontra wacana sekarang ini,” jelasnya.

Serangan fisik terhadap kelompok teror hanya membuat mereka tiarap sementara. Akan muncul kembali kalau merasa kekuatannya cukup atau meletup saat ada anggota kelompok teror yang merasa terdesak. ”Tapi, kalau keyakinannya yang dilawan, tentu akan berbeda,” ujarnya.

Kontra wacana akan membuat kelompok teroris lebih sulit untuk mencari anggota atau merekrut. Sebab, keyakinan yang digunakan itu terbantahkan. ”Tentunya perlu untuk menyerang inti utama kelompok teroris ini,” paparnya. (idr)