Internasional

Digoyang Demonstran, Hariri Jatuh

Demonstrasi yang terjadi di Lebanon. (net)

PRO BINTAN – Saad Hariri memenuhi tuntutan massa. Perdana menteri (PM) Lebanon tersebut meletakkan jabatannya. Seluruh jajaran kabinetnya juga dibubarkan.

Hariri menegaskan, keputusan itu diambil sebagai respons atas aksi sebagian besar penduduk Lebanon yang turun ke jalan dan menginginkan perubahan. Massa yang menentang praktik korupsi dan sektarianisme tersebut berunjuk rasa sejak 17 Oktober lalu.

“Kita harus melakukan kejutan besar untuk memperbaiki krisis. Saya akan ke Istana Baabda guna menyerahkan surat pengunduran diri dari pemerintahan,” ujar Hariri.

Politikus 49 tahun itu mengungkapkan, dirinya menemui jalan buntu. Hariri sudah pernah mengusulkan program reformasi. Namun, rakyat belum puas.

Kini Hariri tinggal menunggu keputusan Presiden Lebanon Michel Naim Aoun. Yaitu, pengajuannya diterima atau tidak. Jika pengajuan tersebut disetujui, parlemen harus membentuk pemerintahan sementara yang baru. Keputusan mundur Hariri disambut baik oleh banyak pihak.

“Hariri membuka pintu untuk sebuah solusi. Pengunduran diri itu adalah satu-satunya cara keluar yang layak dari krisis saat ini,” tegas Direktur Levant Institute for Strategic Affairs (LISA) Sami Nader sebagaimana dikutip Agence France-Presse.

Demonstran di berbagai penjuru Lebanon langsung bertepuk tangan setelah mendengar pernyataan Hariri. Di Tripoli, massa mengibarkan bendera Lebanon di Alun-Alun Al Nour. Beberapa toko bahkan membagikan permen dan makanan gratis sebagai bentuk sukacita.

Namun, aksi belum usai. Massa akan terus turun ke jalan hingga semua tuntutan mereka dipenuhi. “Kami menyambut pengunduran tersebut, tapi ini tidak cukup. Kami ingin seluruh sistem diubah,” ujar Tima Samir, salah seorang demonstran di Tripoli.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo menyerukan kepada para pemimpin politik di Lebanon untuk segera membentuk pemerintahan yang baru. Menurut dia, aksi damai dan ekspresi persatuan nasional selama 13 hari terakhir mengirimkan pesan yang jelas. Penduduk Lebanon ingin pemerintahan yang efektif dan efisien, reformasi ekonomi, serta berakhirnya korupsi yang sudah berakar.

Di pihak lain, pemerintah Prancis justru khawatir dengan langkah yang diambil Hariri. Mereka takut Lebanon justru mengalami krisis yang lebih parah. Selama ini Prancis adalah pendukung utama Hariri. (sha/c14/dos)