Peristiwa

Menunggak Iuran BPJS Kesehatan, Warga Bintan mulai Ditagih

Tunggakan BPJS Kesehatan Rp 6,3 Miliar, Didominasi Peserta Kelas III

Suasana pelayanan kantor BPJS Kesehatan Bintan yang terletak di Kilometer 16 Toapaya. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

PRO BINTAN – Warga yang merasa memiliki tunggakan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan harap-harap cemas.

Pasalnya, petugas mengaku dari BPJS Kesehatan yang disebut-sebut “debt collector” mulai menagih.

Seorang peserta mandiri BPJS Kesehatan, Soni mengatakan, dirinya ditelepon petugas BPJS Kesehatan karena menunggak iuran BPJS Kesehatan.

Dulu ia memang terdaftar sebagai peserta mandiri BPJS Kesehatan, tapi sudah lama ia tidak menggunakannya karena kalau berobat di klinik selalu bayar sendiri.

“Rp 200 sampai Rp 300 ribu sekali berobat, saya bayar sendiri,” kata ia.

Akhirnya ia membiarkan saja, karena menurut ia, kalau tiga bulan tidak membayar, manfaat dari kartu BPJS Kesehatan akan mati dengan sendiri.

“Tapi kenapa sampai sekarang tunggakan iuran saya berjalan dan saya seolah-olah memiliki hutang sama BPJS Kesehatan. Barusan saya ditagih Rp 3.111.000,” kata ia.

Ia keberatan membayar tunggakan BPJS Kesehatan itu karena dirinya sama sekali tidak pernah merasakan manfaat dari BPJS Kesehatan.

Ia juga sempat meminta agar kepesertaannya dihentikan namun menurut petugas BPJS Kesehatan yang meneleponnya tidak bisa.

“Katanya tidak bisa, pokoknya saya keberatan membayarnya,” kata ia.

Sementara Kepala BPJS Kesehatan Bintan, Anggriyani Dahlan menegaskan tidak ada namanya debt collector.

“Yang menelepon bapak tersebut adalah pegawai BPJS Kesehatan,” kata ia.

Menangani persoalan ini, ia menjelaskan, iuran BPJS sudah menjadi kewajiban peserta BPJS Kesehatan untuk membayar iuran rutin setiap bulan.

Kendati manfaatnya memang belum dirasakan oleh peserta BPJS Kesehatan secara langsung, namun menurut ia, manfaatnya sudah dirasakan oleh peserta BPJS Kesehatan lainnya yang membutuhkan layanan kesehatan.

“Sudah dirasakan oleh saudara-saudara kita yang sedang terbaring di rumah sakit dan sedang mendapatkan pengobatan rutin,” kata ia.

Bagaimana dengan peserta yang ingin berhenti menjadi kepesertaan BPJS Kesehatan?

Dijelaskan kepesertaan BPJS Kesehatan berlaku seumur hidup.

“Jika hendak berhenti dari kepesertaanya hanya 2 cara. Pertama meninggal dunia dan kedua keluar dari warga negara Indonesia,” kata ia.

Diakuinya masih banyak masyarakat yang belum paham prinsip dasar Jaminan Kesehatan Nasional ini adalah gotong royong. “Dengan gotong-royong semua tertolong,” kata ia berharap peserta segera melunasi tunggakan iuran BPJS Kesehatan.

Data diperoleh dari BPJS Kesehatan Bintan bahwa jumlah tunggakan iuran BPJS Kesehatan mencapai Rp 6.354.811.323 miliar. Dimana, 70 persen tunggakan iuran didominasi peserta kelas III BPJS Kesehatan.

Kenaikan iuran BPJS Kesehatan tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 Tentang Jaminan Kesehatan.

Berbunyi iuran Kelas I yang biasanya sekitar Rp 80 ribu menjadi sekitar Rp 160 ribu. Iuran Kelas II yang biasanya sekitar Rp 51 ribu menjadi sekitar Rp 110 ribu dan Kelas III yang biasanya sekitar Rp 25.500 menjadi sekitar Rp 42 ribu. (met)