Peristiwa

Pekerjakan Tiga Anak di Bawah Umur, Mami di Lokalisasi Bukit Senyum, Tanjunguban Diamankan

Kasat Reskrim Polres Bintan, AKP Agus Hasanudin saat ekspos kasus perdagangan anak di bawah umur di markas Polres Bintan di Bintan Buyu, Senin (16/12) siang. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

PRO BINTAN – Satreskrim Polres Bintan menangkap mucikari alias mami ZA, 45, yang mempekerjakan tiga anak di bawah umur, S, 13, P, 16, N, 17, dan seorang wanita dewasa A, 23 sebagai pemandu karaoke dan PSK di salah satu karaoke di Kampung Jaya Pura Gemilang, lokalisasi Bukit Senyum, Desa Lancang Kuning, Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara, Bintan pada Jumat (13/12) sore.

Selain itu, polisi juga mengamankan seorang perekrut tiga anak di bawah umur, NA, 35 di Batam, Sabtu (14/12).

Kasat Reskrim Polres Bintan AKP Agus Hasanudin mengatakan, terungkapnya kasus ini saat penyidik Satreskrim Polres Bintan menerima informasi bahwa adanya anak di bawah umur yang dipekerjakan sebagai pemandu karaoke dan PSK.

“Kita cek ke lokasilasi Bukit Senyum, di sana mereka sudah diminta oleh maminya untuk ke Batam untuk meninggalkan Bintan,” katanya.

Ketika diamankan, polisi membawa empat orang korban, 1 diantaranya seorang wanita berusia dewasa serta seorang mucikarinya ke markas Polsek Bintan Utara.

Dari pemeriksaan terhadap mucikari alias mami ZA, pihaknya mendapatkan informasi bahwa keempat korban didatangkan seorang perekrut dari Bandung.

“Seorang perekrutnya diamankan di Batam, dia datang sendiri ke Batam. Si maminya dan perekrutnya adik beradik,” ujarnya.

Bagaimana mereka bisa sampai dikerjakan di lokalisasi Bukit Senyum, ia menceritakan, para korban awalnya dijanjikan kerja di toko dan restauran di Tangerang, Jawa Barat.

“Dijanjikan kerja¬† pelayan toko atau pelayan restauran, namun di sana mereka malah terlilit utang untuk pengurusan segala macam dokumen, termasuk tiket ke Batam, dimana 1 orang diminta uang Rp 4 juta,” tuturnya.

Terlilit utang, mereka kembali ditawarkan pekerjaan sebagai pemandu karaoke di lokalisasi Bukit Senyum dengan upah sekitar Rp 1,5 juta.

Namun, setiba di Bintan, para korban justru dipekerjakan sebagai PSK.

“Tarif kencan mereka sekali main berkisar Rp 400 sampai 500 ribu. Namun mirisnya dari para korban masih ada yang perawan,” ulasnya.

Selama sebulan bekerja di karaoke di sana, mereka harus membayar utang dari penjualan minuman dan upah dari melayani lelaki hidung belang.

“Uang tips yang mereka dapat dari menjual minuman dan tips sewa kamar dari menjajakan diri diberikan ke mucikari untuk mencicil utang,” jelasnya.

Dua pelaku perdagangan anak, mucikari dan perekrutnya digiring penyidik Satreskrim Polres Bintan saat ekspos di markas Polres Bintan di Bintan Buyu, Senin (16/12) siang. F.Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

Ia mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Bintan karena di lokasi yang diamankan para korban dan mucikari merupakan tempat lokalisasi yang sudah ditutup secara resmi oleh pemerintah.

Ia berharap peran serta instansi biar kejadian ini tidak terukang, apalagi lokasi tersebut sudahh dilakukan penutupan.

“Kita harapkan bisa lakukan pembinaan terkait sudah dilakukan penutupan di lokasi tersebut sebelumnya,” harapnya.

Adapun barang bukti yang disita diantaranya uang tunai sebanyak Rp 3.465.000 dan dua unit handphone, 15 alat kontrasepsi atau kondom, 1 buku nota dan surat keterangan domisili yang diduga dipalsukan dan barang bukti lainnya.

“Jadi identitas yang mereka pakai sudah disiapkan saat mereka di Tangerang, kalau nanti ada yang menanyakan, dokumen yang disiapkan saat di Tangerang yang diberikan, seolah-olah berdasarkan dokumen itu mereka sudah dewasa,” imbuhnya.

Para pelaku dijerat pasal 2 ayat 1 dan 2 UU 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang atau pasal 83 junto pasal 76 huruf f UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak junto UU nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah penganti UU nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman maksimal 15 tahun kurungan penjara.

Sementara mami ZA mengatakan, baru 1 kali ini dirinya mempekerjakan anak di bawah umur.

“Ya saya tau mereka anak di bawah umur, kerja di karaoke nemenin tamu minum. Kalau mau short time, itu maunya mereka, tidak ada paksaan, uang short time, mereka ambil sendiri,” pungkasnya.

Diakuinya juya baru sebulan mempekerjakan para anak di bawah umur tersebut. “Iya saya tau BS sudah tutup. Saya khilaf, menyesal,” urainya.

Kasi Penanganan Anak dan Lansia Dinsos Bintan, Roro Novia Ngesthi mengatakan, pihaknya sangat prihati atas kejadian ini. Terlebih dari para korban yang diamankan, ada seorang yang pernah dipulangkan pascapenutupan lokalisasi di Bintan.

“Ya dia sudah kita bina dan pulangkan, mungkin karena tergiur iming-iming datang lagi. Kalau yang lainnya, korban usia 13 dan 16 tahun sudah tidak sekolah lagi,” ujarnya.

Pihaknya, kata dia, akan berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya dalam hal ini Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) untuk pemulangan para korban.

Untuk pelaku, ia berharap diberikan hukum pasal berlapis karena sejak awal pihaknya sudah memberikan peringatan kepada para mucikari yang ada di lokalisasi di Bintan. (met)